Bagikan:

Status Siaga, PVMBG Pantau Intensi Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau

"Gempa-gempa tremornya, amplitudonya sudah menurun. Namun demikian, kita tetap pantau terus karena kan fluktuatif ya kadang naik, kadang turun"

NASIONAL

Senin, 25 Apr 2022 12:54 WIB

Status Siaga, PVMBG Pantau Intensi Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Aktivitas Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kamis (21/4/22). (Foto: magma.esdm.go.id)

KBR, Bandung - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM) menyatakan, pemantauan visual Gunung Anak Krakatau belum teramati usai dinaikan statusnya dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III), sejak Minggu (24/4/2022) malam.

Menurut Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Bagian Barat PVMBG Badan Geologi KESDM, Nia Haerani, sekitar Gunung Anak Krakatau masih tertutup kabut hingga pukul 10.00 WIB tadi.

"Tetapi dari segi kegempaan saya lihat sudah menurun. Maksudnya gempa-gempa tremornya, amplitudonya sudah menurun. Namun demikian, kita tetap pantau terus karena kan fluktuatif ya kadang naik, kadang turun. Makanya kita memantau 24 jam. Ya mudah-mudahan turun terus. Tetapi kan kita belum bisa memprediksi ke arah itu, kita lihat nanti sejak statusnya Siaga laporannya dibuat per enam jam," katanya kepada KBR di Bandung, Senin (25/4/2022)

Nia mengatakan laporan per enam jam berikutnya pasca penaikan status Gunung Anak Krakatau yaitu periode pukul 06.00-12.00 WIB.

Alami Tiga Kali Letusan dan Erupsi.

Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Bagian Barat PVMBG Badan Geologi KESDM, Nia Haeran menjelaskan, sejak awal 2022, Gunung Anak Krakatau sudah mengalami tiga kali letusan atau erupsi.

"Pada Januari-Februari, kemudian Maret dan April. Yang di April ini secara visual ada perubahan material yang dikeluarkan. Kalau yang Januari hingga Maret itu hanya mengeluarkan material abu," kata dia.

Pada letusan April 2022, Gunung Anak Krakatau dibarengi dengan keluarnya aliran lava selain abu vulkanik dan lontaran batuan pijar. Namun kondisi ini merupakan karakter khas Gunung Anak Krakatau, yang terjadi sejak 1927 silam.

"Jadi bukan sesuatu hal yang luar biasa. Kalau kita perhatikan sejak tahun 1927 memang kondisinya seperti ini. Erupsi abu diselingi lontaran batuan pijar atau disebutnya letusan type strombolian dan aliran lava," ucap Nia.

Ia menjelaskan, letusan Gunung Anak Krakatau pada 22 April lalu itu sudah dipastikan type strombolian disertai aliran lava. Sementara untuk batuan pijar yang diletuskan oleh Gunung Anak Krakatau, lontarannya hanya masih di radius 2 kilometer sekitaran kawah.

"Tapi untuk antisipasi jika suatu saat atau lontaran batunya semakin luas, kita nilai bahwa dinaikkan statusnya menjadi Level III atau Siaga," tegas Nia.

Sedangkan untuk abu vulkanik, Nia mengimbau kepada seluruh kelompok masyarakat agar mengantisipasi meluas sebarannya. Kata dia, sebaran abu vulkanik itu ditentukan oleh arah dan kecepatan angin. Sehingga berpotensi sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau meluas.

"Karena kan ukuran abu vulkanik sangat halus dan arah sebarannya tergantung arah dan kecepatan angin. Kalau kemarin arahnya ke arah tenggara Cilegon ya sampai kesana. Mungkin bisa lebih jauh lagi," pungkas Nia Haerani.

Berita lainnya:

PVMBG Badan Geologi KESDM aktivitas Gunung Anak Krakatau menaikkan level Gunung Anak Krakatau dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III), sejak 24 April 2022, pukul 18.00 WIB. Rekomendasi yang diterbitkan agar masyarakat tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif Gunung Anak Krakatau.

Gunung Anak Krakatau berada di kawasan Selat Sunda, Provinsi Lampung, secara geografis terletak pada posisi 06 derajat 06’05” Lintang Selatan dan 105 derajat 25’22,3” Bujur Timur. Karakter letusan Gunung Anak Krakatau berupa erupsi eksplosif dan erupsi efusif dengan waktu istirahat letusannya berkisar antara 1–6 tahun. Seluruh erupsi ini menghasilkan abu vulkanik dan lontaran lava pijar serta aliran lava.

Sisi barat daya Gunung Anak Krakatau sempat runtuh paskaerupsi yang terjadi akhir Desember 2018.

Editor: Kurniati Syahdan 

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?