Bagikan:

Dirjen Minerba Bakal Kembangkan Eksplorasi Logam Tanah Jarang

"Sebagian besar dari lokasi ini yang paling banyak keterdapatannya adalah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung"

NASIONAL

Senin, 11 Apr 2022 19:08 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: PT Timah Tbk.

Ilustrasi: PT Timah Tbk.

KBR, Jakarta— Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM akan mengembangkan eksplorasi logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth element yang disebut-sebut menjadi komoditas incaran dunia.

Dirjen Minerba Ridwan Djamaluddin mengklaim, telah memetakan delapan lokasi LTJ sebagai sumber daya, sembilan lokasi area keterdapatan LTJ, dan tujuh lokasi yang terindikasi mengandung LTJ.

"Delapan lokasi ini pun baru dilakukan eksplorasi awal sehingga secara umum seperti saya sampaikan tadi kita masih sangat terbatas informasinya. Sebagian besar dari lokasi ini yang paling banyak keterdapatannya adalah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung di mana kita bisa lihat pada peta ini monasit sebanyak 186.000 ton dan senotim sebanyak lebih 20.000 ton," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII, Senin (11/4/2022).

Baca juga:
Stop Ekspor Bijih Nikel, Jokowi: Neraca Perdagangan Surplus
Ekonom CORE: Pemerintah Harus Angkat Isu Pelarangan Ekspor Raw Materials di G20

Selain itu, potensi LTJ juga tersebar di beberapa daerah meski secara volume masih jauh dibandingkan Bangka Belitung. Misalnya, Sumatera Utara berpotensi menyimpan LTJ sebesar 19.917 ton, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan Barat masing-masing memiliki 443 ton dan 219 ton LTJ laterit.

Ridwan menjelaskan, sejak 2021 Dirjen Minerba sudah melakukan eksplorasi awal kegiatan teknis di  Blok Keposong, Bangka Selatan. Eksplorasi awal itu antara lain meliputi pemetaan, geo radar, geo magnet pada areal potensi seluas 55 hektare dengan total volume 35.000 ton lebih logam tanah jarang.

"Kemudian, pada 2022 ini kita tingkatkan eksplorasi awal menjadi eksplorasi detail di Bangka Belitung. Kemudian kita tambah Kegiatan eksplorasi awal di Mamuju dan Konawe. Harapannya nanti pada tahun 2024, kita akan melakukan sekali lagi eksplorasi detail Ketapang Sibolga pegunungan 30 di Papua," sambungnya.

Editor: Sindu

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?