covid-19

PT Bio Farma & PT Biotis Siap Produksi Vaksin Merah Putih

"Kita harapkan dukungan BPOM agar kita punya industri pengembangan vaksin di luar Bio Farma. Ketergantungan terhadap Bio Farma akan menimbulkan masalah kalau kita perlu produksi dalam jumlah besar."

BERITA | NASIONAL

Rabu, 14 Apr 2021 22:48 WIB

Author

Heru Haetami

PT Bio Farma & PT Biotis Siap Produksi Vaksin Merah Putih

Petugas medis menunjukkan vaksin COVID-19 Sinovac Biofarma sebelum penyuntikvaksinasi di Malang, Jawa Timur, Jumat (5/3/2021). (Foto: ANTARA/Ari Bowo Sucipto)

KBR, Jakarta - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menyampaikan perkembangan terbaru pengembangan vaksin COVID-19 Merah Putih.

Dua perusahaan farmasi yaitu PT Bio Farma dan PT Biotis Prima Agrisindo sudah siap memproduksi vaksin Merah Putih, masing-masing yang dikembangkan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman dan Universitas Airlangga.

Bambang memastikan pengembangan vaksin merah putih sepenuhnya dilakukan di dalam negeri. Ia mengatakan pentingnya kemandirian vaksin untuk kebutuhan imunisasi jangka panjang di Indonesia.

"Di sinilah kenapa kami berupaya sekali agar kita bisa melahirkan vaksin Covid-19 versi Indonesia yang kita namakan vaksin Merah Putih. Definisi dari vaksin Merah Putih ini adalah pengembangan bibit vaksin yang menggunakan isolator virus yang beredar di Indonesia dan nantinya dilakukan oleh para peneliti Indonesia dan tentunya produksinya juga dilakukan di Indonesia," kata Bambang dalam konferensi pers bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Rabu (14/4/2021).

Bambang Brodjonegoro menyebutkan ada enam institusi yang tengah mengembangkan vaksin merah putih. Di antaranya Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman dengan subunit protein rekombinan, LIPI dengan protein rekombinan, Universitas Airlangga dengan inactivated virus dan adenovirus, Institut Teknologi Bandung dengan subunit protein rekombinan dan adenovirus vector.

Kemudian ada Universitas Gajah Mada menggunakan subunit protein rekombinan serta Universitas Indonesia mengembangkan vaksin menggunakan DNA, mRNA dan virus-like-particles.

"Dari enam yang sedang bekerja ini ada dua yang perkembangannya paling cepat yaitu dari Eijkman dengan protein rekombinan khususnya yang ekspresi Yeast, di mana PT Bio Farma sudah siap menjadi pihak manufacturingnya. Satu lagi yang juga berproses cukup cepat adalah Universitas Airlangga dengan menggunakan inactivated virus dan sudah mendapat mitra industri yaitu PT Biotis," katanya.

Namun demikian, Bambang mengatakan PT Biotis masih sedang mengurus izin Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Kita harapkan dukungan BPOM agar kita punya industri pengembangan vaksin di luar Bio Farma. Ketergantungan kita terhadap Biofarma akan menimbulkan masalah kalau kita perlu produksi dalam jumlah besar," kata Bambang.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Siapkan Pembelajaran Tatap Muka Digelar?

Kabar Baru Jam 8

Wisata Sehat di Tengah Pandemi

Desa Wisata Tak Kehilangan Pesona