Polisi Masih Dalami Keterlibatan Munarman dengan Jaringan Terorisme

Puslabfor menyimpulkan bahwa bahan-bahan kimia yang ditemukan di bekas markas FPI berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan peledak TATP dan bom molotov.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 30 Apr 2021 23:13 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Polisi Masih Dalami Keterlibatan Munarman dengan Jaringan Terorisme

Garis polisi terpasang di pintu gerbang bekas markas FPI di Petamburan, Jakarta, Selasa (27/4/2021). (Foto: ANTARA/Aprillio Akbar)

KBR, Jakarta - Kepolisian masih mendalami keterkaitan bekas Sekretaris Umum FPI Munarman dengan jaringan terorisme.

Munarman ditangkap Densus 88 Anti Teror pada Selasa, 27 April lalu.

Juru bicara Mabes Polri Ahmad Ramadhan mengatakan, saat ini penyidik kepolisian masih memeriksa Munarman.

"Penyidik Densus 88 Anti Teror Polri masih terus melakukan pendalaman dan pengembangan. Tentunya terkait dengan aksi-aksi terorisme yang dilakukan oleh saudara M di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk keterlibatannya terhadap jaringan terorisme. Jadi kami sampaikan kenapa belum update tentang penanganan saudara M, kami sampaikan bahwa terus penyidik melakukan pengembangan," kata Ramadhan dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jumat (30/4/2021).

Ahmad Ramadhan juga menyampaikan mengenai hasil identifikasi Puslabfor Polri atas temuan di bekas markas FPI di Petamburan.

Kata Ramadhan, Puslabfor menyimpulkan bahwa bahan-bahan kimia yang ditemukan tersebut berpotensi digunakan sebagai bahan baku pembuatan peledak TATP dan bom molotov.

Ia membantah bahwa bahan-bahan itu merupakan cairan pembersih toilet.

Densus 88 Antiteror menangkap Munarman karena diduga terlibat dalam aksi-aksi terorisme beberapa waktu yang lalu.

Berdasarkan keterangan polisi, Munarman diduga menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme, bermufakat jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme, dan menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Melimpah Limbah Medis

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11