Pasca Banjir NTT, DPR Peringatkan Potensi Bencana Akibat Alih Fungsi Lahan

Maman meminta tata kelola dan perizinan lahan di daerah rawan bencana ditinjau ulang

BERITA | NASIONAL

Rabu, 07 Apr 2021 20:16 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Pasca Banjir NTT, DPR Peringatkan Potensi Bencana Akibat Alih Fungsi Lahan

Kerusakan Akibat Banjir NTT. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Anggota DPR Bidang Kebencanaan, Maman Imanulhaq memperingatkan semua pihak besarnya potensi bencana yang diakibatkan alih fungsi lahan. Ia mencontohkan banjir bandang di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menurutnya tak lepas dari dampak alih fungsi lahan.

Maman meminta tata kelola dan perizinan lahan di daerah rawan bencana ditinjau ulang. Ia mengaku miris melihat sederet bencana alam yang turut diakibatkan ulah tangan manusia.

"Tetapi diam-diam kita melihat ada sesuatu yang sangat paradoks. Ada orang yang menyumbang bantuan besar, padahal dia lah sesungguhnya yang melakukan penambangan besar-besaran. Ada orang yang secara atraktif menyalurkan bantuan ke (korban) bencana, tapi dia lah sebenarnya yang menjadikan sungai-sungai jadi dangkal, menjadikan pinggir-pinggir pantai jadi tidak ada pohon karena dibangun hotel dan lain sebagainya," kata Maman kepada KBR melalui sambungan telepon, Rabu (7/4/2021).

Maman Imanulhaq mengatakan, komisinya bakal memanggil Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk membicarakan masalah kebencanaan di Tanah Air.

Sebelumnya, LSM lingkungan hidup Walhi menuding alih fungsi lahan di NTT menjadi penyebab parahnya dampak bencana banjir. Direktur Eksekutif Walhi NTT Umbu Wulang Tanaamahu Paranggi mengklaim menemukan beberapa tempat yang sudah tak mampu lagi menampung air hujan. Kata dia, itu dipengaruhi oleh aktivitas alih fungsi kawasan hutan yang salah satunya dijadikan perkebunan tebu. Kata dia, rusaknya lingkungan di NTT sudah terjadi sejak tahun 2000-an.

Banjir bandang disertai tanah longsor melanda sejumlah daerah di NTT pada Minggu dini hari lalu. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga siang tadi mencatat, ada 124 korban jiwa dan 74 orang dinyatakan hilang. Jumlah itu merupakan data sementara, sebab hingga kini proses evakuasi terhadap korban masih terus berjalan.

Editor: Friska Kalia

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Lambannya Pencairan Bansos di masa PPKM Darurat

Kabar Baru Jam 8

Platform Para Pekerja untuk Saling Berbagi

Kabar Baru Jam 10