Nekat Mudik? Satgas: Nyawa Taruhannya!

"Jadi itu yang harus kita maknai sebagai pengalaman. Selama libur libur panjang tersebut semuanya naik. Nggak ada ceritanya waktu libur panjang itu kasus turun. Semua naik."

BERITA | NASIONAL

Jumat, 09 Apr 2021 17:11 WIB

Author

Astri Yuanasari

Nekat Mudik? Satgas: Nyawa Taruhannya!

Rambu larangan mudik di kawasan Perambanan, Jawa Tengah (28/04/2020). (Foto: Antara/Hendra)

KBR, Jakarta - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengingatkan bahaya yang mengancam keluarga jika mudik lebaran tetap dilakukan saat pandemi. 

Juru bicara Satgas, Wiku Adisasmito mengatakan mobilitas masyarakat yang tinggi bukan hanya bisa berakibat kenaikan kasus, namun diikuti naiknya jumlah kematian, atau bertaruh nyawa.

"Peningkatan kasus itu bukan hanya soal kasus positif COVID-19 semata-mata. Efek dari beberapa individu tertentu, apalagi yang komorbid, usia lanjut, kenaikan kasus penularan. Itu artinya adalah nyawa. Jadi itu adalah konsekuensi publik yang harus kita tanggung, dan itulah kita katakan jangan melakukan mudik," kata Wiku dalam dialog virtual di Kominfo TV, Jumat (9/4/2021).

Wiku mengimbau masyarakat agar tidak mencuri-curi untuk mudik, setelah pemerintah mengeluarkan larangan dan pengetatan transportasi umum. 

Ia mengakui, banyak cara bisa dilakukan untuk menghindari petugas saat nekat mudi. Namun, kesadaran akan keamanan keluarga harus lebih diprioritaskan.

Selain itu Wiku juga mengingatkan, kepada masyarakat yang mendapatkan izin perjalanan pada periode ini untuk wajib melakukan karantina mandiri selama lima hari sesampainya di tempat tujuan. 

Karantina bisa dilakukan secara mandiri dengan memanfaatkan fasilitas pemerintah daerah atau hotel khusus dengan biaya sendiri.

Wiku mengatakan, dikeluarnya larangan mudik tahun 2021 ini berkaca pada tahun sebelumnya. Saat libur lebaran  2020, jumlah kasus di Indonesia meningkat hingga 93 persen atau naik sebanyak 600 kasus per hari. Bahkan pada libur kemerdekaan tahun lalu kenaikan kasus lebih parah yakni sebanyak 119 persen atau naik 1.000 kasus lebih per hari.

"Jadi itu yang harus kita maknai sebagai pengalaman. Selama libur libur panjang tersebut semuanya naik. Nggak ada ceritanya waktu libur panjang itu kasus turun. Semua naik. Jadi itulah yang harus kita kita maknai penting jangan sampai sudah 1 tahun kita belajar nanti kita masih mengulangi hal yang sama." Pungkasnya.

Editor: Dwi Reinjani

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kontroversi Pembatalan SKB 3 Menteri soal Seragam

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Menyekat Pemudik Nekat

Kabar Baru Jam 10