Kendala Vaksinasi COVID-19 untuk Lansia, Dari Takut hingga Malas Antre

Warga senior atau lanjut usia disasar karena berisiko tinggi. Dari 43 ribuan orang yang meninggal karena COVID-19 hingga 19 April 2021, 48 persen di antaranya merupakan kelompok lansia.

BERITA | NASIONAL

Senin, 19 Apr 2021 22:05 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Kendala Vaksinasi COVID-19 untuk Lansia, Dari Takut hingga Malas Antre

Seorang warga berusia lanjut (lansia) mendapat suntikan vaksin COVID-19 di Kota Tangerang, Banten, Minggu (11/4/2021). (Foto: ANTARA/Fauzan)

KBR, Jakarta - Pemerintah mendorong lebih banyak kelompok lanjut usia (lansia) --selain tenaga kesehatan-- untuk mendapatkan vaksin Covid-19.

Lansia disasar karena menjadi kelompok berisiko tinggi. Dari 43 ribuan orang yang meninggal karena COVID-19 hingga 19 April 2021, 48 persen di antaranya merupakan kelompok lansia.

Pemerintah menyadari akan hal itu. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengklaim terus mendorong vaksinasi terhadap lansia di semua daerah, utamanya selama Ramadan dan sebelum Lebaran.

Ia beralasan, Lebaran akan akan jadi momentum berkumpulnya keluarga sehingga lansia rentan tertular.

"Kemungkinan bahwa banyak keluarga yang ingin bertemu keluarganya sangat tinggi. Jadi tolong dipastikan dalam sebulan ini prioritas diberikan vaksinasi kepada para lansia, sehingga mereka senior-senior kita ini bisa kita lindungi. Kalau nanti dikunjungi oleh keluarganya mereka sudah relatif Imunitas nya lebih baik," ujar Budi dalam keterangan pers, Minggu (18/4/2021).

Pemerintah menargetkan lebih dari 21 juta lansia bisa mendapatkan suntikan vaksin Covid-19 pada akhir tahun nanti. Namun hingga kini, realisasinya baru mencapai 10 persen untuk suntikan tahap pertama.

Lambannya proses vaksinasi lansia ini diakui oleh Menteri Budi Gunadi. Dia mengungkapkan, rendahnya partisipasi lansia dalam vaksinasi Covid-19 lantaran banyak yang merasa takut disuntik.

"Terutama para lansia. Kita sekarang sudah mendorong vaksinasi ke lansia. Masih banyak lansia yang merasa takut, merasa sungkan, merasa enggan datang. Termasuk anak-anaknya juga ragu mengajak bapak dan ibunya untuk suntik. Padahal vaksinasi ini sangat penting untuk melindungi mereka. Mereka termasuk golongan yang rentan atau rawan. Kalau terkena kemungkinan fatalitasnya tinggi," ujar Budi dalam sambutan peninjauan vaksinasi seniman yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Senin (19/4/2021).

Salah satu daerah yang disorot oleh Menkes yakni Aceh. Menurutnya, cakupan vaksinasi bagi lansia di Aceh menjadi yang terendah dibanding daerah lain, yakni 0,47 persen. Masalah mendasarnya: pemerintah belum mampu meyakinkan kelompok lansia untuk mau divaksin.

Antre

Kendala lain vaksinasi untuk lansia juga diungkap Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan di Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Safrizal. Banyak lansia yang tidak mau divaksin lantaran tak mau mengantre lama.

"Beberapa yang kami diskusikan, sulit untuk misalnya mengajak para manula ini untuk antre di tempat massal. Kemudian juga para manula ini sulit diminta menunggu lebih dari dua jam. Ini juga sulit ya," kata Safrizal dalam diskusi daring, Minggu (18/4/2021).

Kementerian Kesehatan mengklaim menyiapkan beragam strategi guna mengatasi masalah-masalah tersebut. Salah satunya melibatkan komunitas dan organisasi seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk mengedukasi pentingnya vaksinasi bagi lansia.

Selain itu, pemerintah juga memberi fasilitas transportasi dan kemudahan akses pendaftaran bagi lansia. Lokasi vaksinasi juga akan disiapkan di sejumlah kelurahan untuk memudahkan mereka.

Sebagai salah satu kelompok lansia yang sudah disuntik, Wakil Presiden Maruf Amin mengajak lansia tak takut disuntik karena vaksinasi sudah terbukti aman.

Namun ia juga mewanti-wanti agar vaksin tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan protokol kesehatan.

"Oleh karena itu saya mengajak kepada seluruh masyarakat untuk mengikuti vaksinasi. Karena ini penting buat kita untuk menjaga kekebalan," kata Maruf, pada 17 Maret 2021 lalu.

Tak lolos screening

Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko Wahyono meyebut tantangan lain dalam program vaksinasi lansia.

Tri mengatakan banyak lansia yang tidak lolos proses screening sehingga tidak bisa mendapatkan suntikan vaksin. Itu lantaran mereka mengidap penyakit penyerta yang tidak masuk syarat penerima vaksin.

"Oleh karena itu lansia ya hati-hati. Kalau nggak hati-hati ya akan terjadi efek samping, karena banyak yang ada pemberatnya begitu, penyakit penyertanya begitu," kata dia kepada KBR, Senin (19/4/2021).

Miko menyarankan pemerintah pemerintah bertindak aktif menjemput para lansia untuk mau divaksin. Namun bagi lansia yang tidak memenuhi syarat lantaran mengidap penyakit penyerta, sebaiknya dikontrol secara rutin oleh tenaga kesehatan sehingga terhindar dari ancaman Covid-19.

"Lansia menurut saya harus periksa kesehatannya ke faskes sendiri. Kalau dia punya penyakit penyerta, penyakit penyertanya ada, ya pemerintah wajib menjelaskan begitu, apa yang harus dia lakukan," tambahnya.

Miko berharap pemerintah bisa memastikan kelancaran suplai vaksin bagi lansia. Selain itu, pemerintah juga diminta menggencarkan penyuluhan ke kelompok lansia supaya mau divaksin tanpa dipaksa. Lambannya vaksinasi pada lansia bisa berpotensi meningkatkan angka kematian akibat Covid-19.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Jurus Investasi Reksadana Antitekor

Kiat Asyik Tegakkan Prokes saat Rayakan Hari Raya

Kabar Baru Jam 7

Upaya Mencegah Penyebaran Covid-19 Klaster Idulfitri