Kemenperin Klaim Sektor Industri Indonesia Siap Masuk Revolusi Industri 4.0

Pemerintah menetapkan tujuh sektor industri pada fokus program prioritas 'Making Indonesia 4.0'. Sektor industri yang dijadikan 'champion' diharapkan dapat menginspirasi sektor lain.

BERITA | NASIONAL

Senin, 05 Apr 2021 21:49 WIB

Author

Sadida Hafsyah

Kemenperin Klaim Sektor Industri Indonesia Siap Masuk Revolusi Industri 4.0

Ilustrasi. Mobil rakitan siap ekspor terpakir di PT Indonesia Kendaraan Terminal, Cilincing, Jakarta, Senin (18/3/2019). (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Kementerian Perindustrian mengklaim rata-rata sektor industri di Indonesia berada di level siap untuk memasuki revolusi industri 4.0.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian, Eko SA Cahyanto mengatakan ini berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh Kemenperin, usai pemerintah memberikan panduannya.

"Beberapa industri sudah betul-betul menerapkan sepenuhnya 4.0 itu. Industri-industri yang sudah sepenuhnya menerapkan 4.0, bahkan sudah diakui oleh dunia, sudah disertifikasi oleh World Economic Forum. Itu kita jadikan champion. Kemudian kami juga mencari industri-industri yang sudah kita bisa jadikan national champion," kata Eko dalam diskusi Forum Merdeka Barat (FMB9) secara virtual, Senin (5/4/2021).

Eko Cahyanto menjelaskan sektor industri yang dijadikan juara nasional dalam implementasi revolusi industri 4.0, diharapkan dapat menginspirasi sektor lain untuk melakukan pengembangan yang serupa.

"Apa yang terjadi dengan penerapan itu? Produktivitas mereka meningkat, tenaga kerja bertambah, kemudian kegiatan usahanya akan semakin mengglobal," katanya.

Pemerintah menetapkan tujuh sektor industri pada fokus program prioritas 'Making Indonesia 4.0'. Antara lain sektor industri makanan dan minuman, tekstil dan busana, otomotif, kimia, elektronika, farmasi, dan alat kesehatan.

"Sektor yang dipilih ini mewakili porsi terbesar dari industri. Dari segi kontribusinya terhadap PDB, kontribusinya terhadap ekspor, kontribusinya terhadap penerimaan negara, termasuk kontribusinya dalam penyerapan tenaga kerja," tegasnya.

Buka lapangan kerja

Eko Cahyanto mengklaim implementasi revolusi industri 4.0 akan membuka lapangan kerja. Menurutnya, revolusi industri 4.0 tidak seharusnya tidak menghilangkan tenaga kerja manusia atau menggantikannya dengan mesin.

"Yang dibutuhkan sekarang, pertama adalah bagaimana kita berusaha untuk mentransformasi sumber daya kita. Mereka harus aware dulu, apa itu 4.0. Kemudian bagaimana kita memberi kompetensi yang baru kepada mereka. Melakukan shifting ini, ini harus dilakukan secara masif," kata Eko.

Ia memprediksi implementasi revolusi industri 4.0 akan menambah kebutuhan tenaga kerja dari 20 juta menjadi 30 juta pada 2030. Dengan kata lain, akan ada 10 juta lapangan kerja baru ke depannya.

"Jika kita betul-betul memanfaatkan teknologi, kita justru akan membutuhkan lebih banyak lagi tenaga kerja," katanya.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kontroversi Pembatalan SKB 3 Menteri soal Seragam

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Menyekat Pemudik Nekat

Kabar Baru Jam 10