Embargo Vaksin Bikin Ketar-ketir, DPR Minta Pemerintah Siapkan Skenario Terburuk

Kementerian Kesehatan membenarkan ada gangguan dalam program vaksinasi nasional akibat kendala pengiriman vaksin AstraZeneca, imbas embargo dari India.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 08 Apr 2021 20:55 WIB

Author

Adonia Bernike, Muthia Kusuma

Embargo Vaksin Bikin Ketar-ketir, DPR Minta Pemerintah Siapkan Skenario Terburuk

Proses vaksinasi COVID-19 di Senayan City, Jakarta, Rabu (7/4/2021). (Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga)

KBR, Jakarta - Komisi yang membidangi Kesehatan DPR mendesak pemerintah membuat berbagai skenario mengamankan vaksin COVID-19 di Indonesia.

Anggota Komisi yang membidangi Kesehatan DPR, Darul Siska mengatakan skenario ini diperlukan untuk menanggapi isu embargo vaksin dari India.

Ia khawatir, program vaksinasi gratis di Indonesia terhambat gara-gara kekurangan stok vaksin.

"Kita agak ketar-ketir soal vaksin Astrazeneca dari Gavi. Karena ini barang gratis. Kami kira harus ada antisipasinya. Walaupun ada andil Ibu Menteri Luar Negeri soal itu. Tetapi itu bukan kartu sakti yang membuat kita mendapat vaksin Astrazeneca. Melihat keadaan kita yang uncertainty-nya tinggi banget, perlu pemerintah membuat dua skenario. Satu skenario optimistis dan pesimistis, sehingga ada antisipasi dari kegagalan. Menurut saya ini harus kita lakukan agar setidaknya kita waspada," kata Darul Siska dalam Rapat Kerja DPR IX dengan Menteri Kesehatan, (8/4/2021).

Darul Siska menambahkan, skenario diperlukan agar pemerintah waspada, dan dapat mengantisipasi kegagalan di program vaksinasi.

Suplai terhambat

Dalam rapat dengan Komisi IX DPR, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membenarkan ada gangguan dalam program vaksinasi nasional akibat kendala pengiriman vaksin AstraZeneca.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, pemerintah rencananya mendatangkan vaksin AstraZeneca melalui dua jalur, yakni pengiriman AstraZeneca melalui program GAVI dengan mekanisme bilateral melalui PT Bio Farma.

Jalur kedua yakni multilateral melalui skema Covax-Gavi. Dua jalur tersebut direncanakan dapat menyuplai 104 juta dosis vaksin. Namun, isu embargo vaksin dari India membuat pengiriman terhambat.

"Jadwal pengiriman bilateral antara Astrazeneca dengan Biofarma, yang sebelumnya memang 50 juta dosis dijanjikan selesai di tahun 2021. Tapi sekarang mereka hanya komit 20 juta dosis, sisanya diundurkan di kuartal I dan kuartal II 2022. Untuk bisa mengantisipasi dua kejadian ini, kita sudah menambah jumlah Sinovac. Karena sampai sekarang yang tidak pernah miss jadwal delivery-nya adalah yang dari China," kata Budi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi Kesehatan, Kamis, (8/4/2021).

Menteri Kesehatan Budi Gunadi menambahkan, program pengadaan vaksin skema COVAX-GAVI yang disuplai India harus ditunda karena adanya peningkatan jumlah kasus Covid-19 di negara itu, sehingga dilakukan embargo pada ekspor vaksin.

Akibatnya, Indonesia harus kehilangan 10 juta dosis vaksin dari AstraZeneca. Kata Budi, pada Maret-April yang sebelumnya diperkirakan memiliki 30 juta dosis vaksin hanya menjadi 20 juta dosis.

"Dari 30 juta vaksin di Maret-April hanya 20 juta, kecepatannya vaksinasi kita atur supaya tidak ada kekosongan hari vaksinasi," kata Menteri Budi.

Budi juga mengupayakan agar laju vaksinasi tidak terhambat lantaran kerja sama dengan kerja sama dengan lembaga lain pada program vaksinasi nasional ini. Dia pun mengharapkan agar mulai Juli, Indonesia bisa menyuntikkan vaksin 1 juta perhari.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Belajar dari Lonjakan Kasus di India

Kabar Baru Jam 7

Gua Hira dan Cahaya Semesta

Kabar Baru Jam 8

Menyoal Tenggelamnya Kapal Selam dan Upaya Modernisasi Alutsista