Dana LPDP Meningkat Pesat Hingga Rp70 Triliun

Sektor pendidikan memiliki post anggaran terbesar dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN)

BERITA | NASIONAL

Jumat, 23 Apr 2021 14:29 WIB

Author

Dwi Reinjani

Dana LPDP Meningkat Pesat Hingga Rp70 Triliun

Keterangan foto: Sri Mulyani saat mengikuti rapat kerja di DPR RI. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut dana abadi yang dikelola Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), meningkat pesat sejak 2012. Ia mengatakan, saat ini capaian dana abadi LPDP mencapai Rp70,1 triliun.

"Sejak LPDP dibentuk tahun 2012 sejak 2009 bahkan untuk hal ini LPDP saat ini sudah mengakumulasikan dana abadi sebesar 70,1 triliun. Ini dimulai dengan awalnya dana abadi itu hanya 1 triliun, jadi suatu kenaikan yang luar biasa," ujar Sri Mulyani dalam diskusi virtual bersama Kementerian Pendidikan, Kamis (22/04/2021).

Menteri Keuangan Sri Mulyani merinci dari 70 triliun dana abadi di LPDP, sebesar Rp61 triliun merupakan dana abadi pendidikan, lima triliun dana penelitian, tiga triliun dana abadi perguruan tinggi, dan 1 triliun dana abadi kebudayaan.

Menurut Sri Mulyani, sektor pendidikan memiliki post anggaran terbesar dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN), yakni 20 persen. Untuk itu kementerian keuangan terus berupaya mengelola belanja pendidikan agar terserap maksimal, hal itu dilakukan lantaran dana belanja pemerintah harus habis sesuai tahun anggarannya.

Namun dengan adanya program dana abadi LPDP, alokasi dana pendidikan tiap tahun tidak harus buru-buru di keluarkan, dan dapat digunakan untuk hal mendesak.

"Dengan adanya pembentukan dana abadi, maka bisa digunakan untuk membiayai beasiswa yang bersifat reguler, afirmasi maupun ASN, TNI dan Polri dalam hal pendidikan. Ini merupakan pemikiran untuk menciptakan dana yang bermanfaat bagi antargenerasi," katanya.

Editor: Friska Kalia

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kontroversi Pembatalan SKB 3 Menteri soal Seragam

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Menyekat Pemudik Nekat

Kabar Baru Jam 10