Anak Muda Mataram Lawan Kekerasan Berlatar Agama

Anak muda dilibatkan dalam kampanye yang dikemas kreatif

Kegiatan Dewan Anak Mataram di Masa Pandemi (Foto: Dokumentasi DAM)

Selasa, 06 April 2021

Pada 2016 lalu, Provinsi Nusa Tenggara Barat masuk zona merah paham kekerasan berlatar agama, versi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Di Mataram, Dewan Anak Mataram mengecek langsung ke berbagai sekolah untuk memastikan soal itu. Zainudin Syafari, bertemu mereka dan mencari tahu, apa langkah yang dilakukan untuk melawan kekerasan berlatar agama di sana.

- Anak Muda Mataram Lawan Kekerasan Berlatar Agama
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Mataram - Anak muda di Mataram, Nusa Tenggara Barat, punya cara kreatif untuk mendukung kampanye melawan paham kekerasan berlatar agama.

Salah satunya dengan berpartisipasi dalam kompetisi lomba film atau video pendek untuk siswa. Kegiatan ini dihelat 2019 lalu oleh Dewan Anak Mataram (DAM).

Film bertajuk "Jihad" karya Natasya Hadiatullah Buhari termasuk film yang diputar pada puncak acaranya.

“Ceritanya ada anak madrasah namanya Nina. Dia salah pemahaman tentang jihad, tapi nanti ada yang meluruskan. Di film itu, dia sempat menjauhi teman yang beda agama. Jihad kan tidak seperti itu," kata Natasya Hadiatullah Buhari.

Natasya Hadiatullah Buhari, pembuat film pendek Jihad untuk lawan kekerasan berlatar agama. (Foto: KBR/Zainudin Syafari)

Natasya adalah kader Dewan Anak Mataram, kelompok anak muda yang aktif melakukan kampanye melawan paham kekerasan berlatar agama.

Film “Jihad” yang berdurasi 3 menit dirasa efektif sebagai materi kampanye.

“Karena video (bisa) menceritakan hal yang lebih spesifik, kalau menurut saya. Dan kalau misalnya dia ditaruh di media sosial, itu kan jangkauannya luas jika dibandingkan cuma pamflet atau poster yang dipajang di satu tempat,” tutur Natasya.

Sejak 2019, Dewan Anak Mataram aktif bergerilya untuk kampanye ke sekolah-sekolah.

“Tak tanya-tanya ternyata ada (paham kekerasan berlatar agama). Saya pikir tidak ada radikalisme itu. Malahan katanya mereka membuat kayak organisasi tempat diskusi. Tidak disangka sih, ternyata ada,” ujar Redinda Raysyah Rahmika, Ketua Dewan Anak Mataram.

Redinda Raysyah Rahmika, Ketua DAM (Foto: KBR/Zainudin Syafari)

Dewan Anak Mataram lantas melakukan observasi bersama lembaga The Asia Foundation. Mereka datang ke sekolah-sekolah dan menemukan paham kekerasan berlatar agama sudah masuk ke lingkungan sekolah. Gaung Alif dari Dewan Anak Mataram ikut dalam observasi tersebut.

“Yang di sekolah masing-masing memberikan informasi, ada lho yang begini-begini di sekolah. Nah, kami akhirnya ke sekolah mereka untuk melakukan sosialisasi-sosialisasi soal itu, menanyakan pendapat mereka juga. Dan ternyata memang ada (paham kekerasan berlatar agama),” kata Gaung.

Paham itu terutama terindentifikasi di kegiatan ekstra-kurikuler, kata Program Officer The Asia Foundation, Jojor Sri R Tobing.

“Di observasi awal, (paham) ini memang masuk di ekstra-kulikuler, karena pengawasan dari guru juga tidak seintens di ruang-ruang kelas. Kami melihatnya sebuah fakta yang perlu ditindaklanjuti melalui program ini,” jelas Jojor.

Dewan Anak Mataram mulai putar otak: apa yang bisa dilakukan untuk melawan paham kekerasan berlatar agama.

Gaung bercerita, mereka lantas memilih film serta ajang lomba film pendek.

“Kami berpikir dengan mengadakan lomba seperti ini, mereka kan harus observasi dulu untuk bikin filmnya. Jadi secara tidak langsung mereka akan belajar bagaimana sih kekerasan itu. Antusiasme mereka untuk belajar dan membuat film itu sangat tinggi," kata Gaung.

Gaung Alif dari DAM (Foto: KBR/Zainudin Syafari)

Film digarap anak muda dengan sasaran penonton anak muda pula. Strategi ini, kata Redinda lebih pas sebagai sarana edukasi.

“Biasanya remaja itu lebih mengerti sama apa yang dikasih tahu temannya, daripada sama orang dewasa. Kalau orang tua itu, ah terlalu gimana sih dijelasinnya itu, berbeda lah. Dengan adanya lomba video ini, yang membuatnya juga remaja di bawah 18 tahun, pasti cara menyampaikannya agak bervariasi. Lebih nangkap bahasanya,” ungkap Redinda.

Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram menilai, konten edukatif sesama teman sebaya sangat penting untuk mencegah paham kekerasan berlatar agama.

Apalagi siswa SMP dan SMA masih labil, kata Ketua LPA Kota Mataram Joko Jumadi.

“Masa-masa SMP-SMA itu paling labil. Mereka dari pemahaman yang nol kemudian masuk pemahaman yang belum tentu benar, tidak komprehensif, hanya ayat-ayat tertentu saja yang diambil. Ini bisa jadi masalah,”

Dewan Anak Mataram tetap ingin membuat kegiatan terkait dengan upaya menangkal paham kekerasan berlatar agama seperti “DAM Goes to School” dan lainnya. Namun karena pandemi, ruang gerak masih terbatas. Yang dilakukan sekarang adalah pendampingan psikologi anak.

“Kita ada kegiatan PFA (Psychological First Aid) dan cara penanganan P3K. Kenapa kita pilih kegiatan itu, karena teman-teman DAM ini kan sebagai pelopor dan pelapor. Otomatis kita paling sering ketemu sama teman-teman kita yang punya masalah. Di PFA itu kita diajarkan leadership, bagaimana menangani teman kita terlebih dahulu,” tutur Redinda.

Natasya Marsha, Kader DAM (Foto: KBR/Zainudin Syafari)

Ketua LPA Kota Mataram Joko Jumadi pun berkomitmen untuk tetap mengawal isu kekerasan berlatar agama ini bersama dengan Dewan Anak Mataram.

“Selain isu anak, perkawinan anak, kemudian bullying, saya pikir isu radikalisme adalah isu strategis yang tetap dikembangkan oleh teman-teman di LPA maupun di DAM,” kata Joko.

Salah satu kader Dewan Anak Mataram, Natasya Marsha belajar banyak dari kegiatan-kegiatan di organisasinya. Dia mengaku paham tentang toleransi dan menghargai keberagaman.

“Kita ini sudah sekolah. Seharusnya kita itu tidak asal menerima, kalau kita dikasih tahu tentang jihad. Jihad itu tidak harus perang, jadi ada cara-cara lain. Kita jadi intoleran gara-gara (pemahaman keliru) soal jihad," ujar Natasya.