Teater Gandrik akan Pentaskan “Para Pensiunan 2049” di Jakarta

Dalam lakon ini, setiap jenazah wajib memiliki Surat Keterangan Kematian yang Baik (SKKB). Koruptor tidak berhak mendapat SKKB, sehingga saat mati ia tidak berhak dikubur.

RUANG PUBLIK , BERITA , NASIONAL

Jumat, 12 Apr 2019 17:33 WIB

Author

Adi Ahdiat

Teater Gandrik akan Pentaskan “Para Pensiunan 2049” di Jakarta

Poster Teater Gandrik (Foto: ivaa-online.org).

Teater Gandrik akan menampilkan pementasan teater bertajuk Para Pensiunan 2049 di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta, pada tanggal 25 – 26 April 2019 mendatang.

Para Pensiunan 2049 ditulis oleh Agus Noor dan Susilo Nugroho, bercerita tentang kondisi masa depan di mana siapapun yang mati diwajibkan memiliki Surat Keterangan Kematian yang Baik (SKKB).

Orang-orang yang pernah korupsi tidak berhak mendapat SKKB, sehingga ketika mati ia tidak berhak dikubur.

Alih-alih dimakamkan dengan layak, jenazah koruptor tanpa SKKB itu akan dicincang dan dijadikan pupuk agar berguna. Aturan ini dibuat untuk menghukum para koruptor.

Konflik kemudian muncul ketika ada seorang pejabat besar yang terlanjur mati tanpa memiliki SKKB.

Sebelum "dibawa" ke Jakarta, lakon ini sudah pernah dimainkan di Taman Budaya Yogyakarta pada 8 - 9 April 2019 lalu.


Singgung Isu Korupsi

Sebagaimana dilansir situs resmi dinas pariwisata Yogyakarta, pementasan ini salah satunya memang dimaksudkan untuk menyinggung isu pemberantasan korupsi.

“Pensiunan 2049 merupakan kisah masa depan jika upaya pemberantasan korupsi menemui jalan buntu, kehidupan akan semakin haru dan lucu,” ujar Butet Kartaredjasa, salah satu pemeran di pementasan ini (8/4/2019).

Butet juga menyebut bahwa pementasan ini akan dibawakan dengan gaya yang horor, namun bisa membuat penonton terpingkal-pingkal.

Pementasan ini dimeriahkan oleh sejumlah nama besar dalam dunia teater seperti Djaduk Ferianto, Butet Kertaredjasa, Susilo Nugroho, Jujuk Prabowo, Rulyani Isfihana, Sepnu Heryanto, Gunawan Maryanto, Citra Pratiwi, Feri Ludiyanto, Jamiaut Tarwiyah, Nunung Deni, Kusen Ali, M. Yusuf, M. Arif, M. Ramdan, dan Akhmad Yusuf.


Sekilas tentang Teater Gandrik

Teater Gandrik adalah kelompok seni peran yang dikenal sering mengangkat tema-tema sosial dan kritik terhadap penguasa, namun dengan gaya yang ringan dan penuh canda.

Menurut Kelola.or.id, organisasi nirlaba yang bergerak di bidang seni, Teater Gandrik ini juga merupakan salah satu kelompok teater kontemporer Indonesia yang mampu mengolah bentuk dan spirit teater tradisional dengan gaya pemanggungan modern.

Teater Gandrik didirikan pada tanggal 13 September 1983 oleh Jujuk Prabowo, Heru Kesawa Murti, Susila Nugraha. Sepnu Heryanto dan Novi Budianto.

Teater ini sempat mengalami tahun-tahun produktif di Masa Orde Baru, yakni tahun 1980 – 1990. Di periode tersebut mereka memainkan lakon-lakon berjudul Pasar Seret (1985), Pensiunan, Sinden (1986), Dhemit, Isyu (1987), Orde Tabung, Juru Kunci (1988), Upeti, Juragan, Abiyoso (1989), yang dianggap merepresentasikan dinamika sosial politik Indonesia saat itu.

(Sumber: https://pariwisata.jogjakota.go.id)

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Kontras Surabaya Desak Polisi Tangkap Pelaku Rasisme di Asrama Mahasiswa Papua