KNKT Butuh 5 Bulan Selidiki Insiden Pesawat di Halim

Jika dibandingkan dengan Indonesia, jumlah laporan yang harus diselesaikan KNKT mencapai lima kali lipat di Amerika. Padahal penyelidik kecelakaan transportasi di Amerika lima kali lebih banyak.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 05 Apr 2016 12:57 WIB

Author

Agus Lukman

KNKT Butuh 5 Bulan Selidiki Insiden Pesawat di Halim

Pesawat Batik Air yang dikelola Lion Air Group. (Foto: BUMN.go.id)

KBR, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memperkirakan waktu penyelidikan kasus senggolan pesawat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta capai 4-5 bulan.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, lembaganya butuh waktu karena pada saat yang sama harus menuntaskan penyelidikan kasus lain. Di samping itu tenaga investigator KNKT juga minim.

"Kita kan banyak pekerjaan rumah, seperti Trigana, Aviastar, juga kasus Batik Air di Yogyakarta. Yang di Jogjakarta ini sudah hampir selesai. Ini berurutan. Mungkin kasus Batik Air di Halim ini agak belakangan. Mungkin empat lima bulan lagi," kata Soerjanto Tjahjono kepada KBR, Selasa (5/4/2016).

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengakui KNKT kewalahan menangani banyaknya kasus kecelakaan transportasi. Jumlah kasus yang ditangani KNKT lebih banyak dibanding penyelidikan di Amerika Serikat. "Masih banyak yang harus diselesaikan. Masih ada 50 kasus. Satu tahun itu kita hanya bisa mengeluarkan report itu sekitar 30-35 report saja," lanjut Soerjanto. 

Menurut Soerjanto, di Amerika laporan penyelidikan kecelakaan transportasi paling banyak satu atau dua kasus kecelakaan besar dan sekitar 10 kasus kecelakaan kecil per tahun.

Jika dibandingkan dengan Indonesia, jumlah laporan yang harus diselesaikan KNKT mencapai lima kali lipat di Amerika. Padahal penyelidik kecelakaan transportasi di Amerika jumlahnya lima kali lebih banyak dibanding Indonesia. Sedangkan jumlah insiden kecelakaan transportasi di Indonesia lebih banyak dibandingkan kemampuan KNKT.

Saat ini, KNKT hampir merampungkan penyelidikan kecelakaan pesawat Trigana Air yang jatuh di Pegunungan Bintang, Papua, 16 Agustus 2015 lalu. Pesawat tipe ATR 42 itu mengangkut 54 orang dan semua penumpang tewas.

Kasus lain adalah tergelincirnya pesawat Boeing 737 milik maskapai Batik Air di landas pacu Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, pada November 2015 lalu. Penyelidikan KNKT dalam kasus ini juga sudah hampir selesai.


Editor:  Damar Fery Ardiyan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Masyarakat Sipil Tolak Rencana Presiden Menghidupkan Jabatan Wakil Panglima TNI