KPK Tetapkan Tersangka Proyek e-KTP

KBR68H, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan pejabat di Kementerian Dalam Negeri sebagai tersangka terkait dugaan korupsi pengadaan KTP elektronik tahun 2011 - 2012. Pejabat tersebut merupakan Pejabat Pembuat Komitmen di Direktorat Jend

NASIONAL

Selasa, 22 Apr 2014 18:41 WIB

Author

Indra Nasution

KPK Tetapkan Tersangka Proyek e-KTP

KPK, e ktp, kemendagri

KBR68H, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan pejabat di Kementerian Dalam Negeri sebagai tersangka terkait dugaan korupsi pengadaan KTP elektronik tahun 2011 - 2012. Pejabat tersebut merupakan Pejabat Pembuat Komitmen di Direktorat Jenderal Kependudukan Catatan dan Sipil Kemendagri bernama Sugiharto.

Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan Sugiharto diduga menyalahgunakan wewenang untuk mempengaruhi proyek KTP elektronik. Anggaran yang digunakan dalam proyek ini sebesar Rp 6 triliun, sementara untuk kerugian negara masih dihitung.

"Dan setelah dilakukan gelar perkara terkait dengan proses penyelidikan pengadaan paket penerapan KTP elektronik atrau e-KTP, maka didapat dua alat bukti yang cukup, yang kemudian disimpulkan telah ada dugaan tindak pidana korupsi di dalam kaitan pelaksanaan e-KTP tersebut. Dari hasil gelar perkara maka ditetapkan S sebagai tersangka,” kata Johan di KPK Jakarta, Selasa (22/4).

Johan Budi mengatakan terkait dengan kasus ini penggeledahan masih dilakukan disejumlah tempat, salah satunya di Kantor Direktorat Jenderal Dukcapil, Kementerian Dalam Negeri. Kasus ini pertama kali diungkap bekas Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin melalui media.

Nazaruddin saat itu mengatakan terjadi rekayasa spesifikasi dan pengaturan proses tender. Selain itu juga ada dugaan penggelembungan dana dalam proyek ini hingga mencapai Rp 2,5 triliun.

Editor: Pebriansyah Ariefana

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Belgia Kewalahan Hadapi Gelombang Pandemi

Penerimaan Masyarakat terhadap Vaksin Covid-19 Masih Rendah

Ronde 6 - Petani Tembakau

Kabar Baru Jam 8