ADB: Pertumbuhan Akan Naik Sesudah Pemerintahan Baru Terbentuk

Sedangkan investasi diperkirakan akan membaik pada 2015 setelah pemerintahan yang baru memaparkan kebijakannya dan mendorong kembali investasi di bidang infrastruktur. Prospek investasi akan membaik seiring tingkat inflasi yang lebih rendah dan defisit tr

NASIONAL

Selasa, 01 Apr 2014 15:24 WIB

Author

Heru Hendratmoko

ADB: Pertumbuhan Akan Naik Sesudah Pemerintahan Baru Terbentuk

pertumbuhan membaik tahun depan, pemilu lancar, Asian Development Bank, investasi asing meningkat, pengurangan subsidi BBM

KBR68H - Jakarta, Bank Pembangunan Asia (ADB) memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2014 akan menurun sebelum kembali menguat tahun depan.

Laporan dalam Asian Development Outlook 2014 yang dirilis hari ini (1/4), menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menurun menjadi 5,7% pada tahun 2014 dan akan naik menjadi 6,0% pada tahun 2015.

Menurut Country Director ADB di Indonesia, Adrian Ruthenberg, prakiraan itu mengasumsikan pemilihan umum bulan April dan Juli akan berlangsung lancar dan pemerintah baru akan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki iklim investasi.

Konsumsi swasta diperkirakan akan tumbuh perlahan, didukung oleh menurunnya inflasi, dan pembelanjaan seputar pemilihan umum di semester pertama 2014. Sementara pertumbuhan investasi tahun ini diprediksi akan sama dengan tahun lalu. Sedangkan investasi diperkirakan akan membaik pada 2015 setelah pemerintahan yang baru memaparkan kebijakannya dan mendorong kembali investasi di bidang infrastruktur. Prospek investasi akan membaik seiring tingkat inflasi yang lebih rendah dan defisit transaksi berjalan yang membaik di 2015, serta menguatnya perdagangan dunia.

Dalam keterangan pers yang diterima redaksi, ADB menyebut tantangan yang cukup signifikan bagi Indonesia adalah mengatasi defisit transaksi berjalan tahun 2014 dan beberapa tahun kedepan. Menghadapi tantangan defisit transaksi berjalan tersebut, Pemerintah Indonesia memang telah mengambil langkah-langkah untuk memperlambat laju permintaan domestik, mendorong ekspor, dan menahan impor, seiring dengan terpuruknya nilai Rupiah.

“Tapi dampak kebijakan tersebut hanya akan bertahan dalam satu dua tahun. Dalam jangka panjang, penguatan necara berjalan memerlukan reformasi struktural untuk memacu tingkat produktivitas dan daya saing secara berkelanjutan,” ujar Deputy Country Director ADB, Edimon Ginting untuk Indonesia.

Salah satu bentuk reformasi struktural tersebut adalah penghapusan subsidi bahan bakar secara bertahap. Pemerintah telah mengambil langkah pengurangan subsidi pada 2013, tapi kelanjutan dari program pengurangan subsidi BBM itu belum jelas, apakah akan dilakukan pemerintah SBY atau diserahkan kepada pemerintah baru.

Pengurangan subsidi BBM akan berdampak pada alokasi anggaran yang lebih besar untuk infrastruktur, pendidikan, dan jaminan sosial yang diperlukan untuk mendorong daya saing dan memacu pertumbuhan nasional.

Mendorong lebih banyak investasi di sektor infrastruktur untuk mendukung anggaran yang terbatas merupakan prioritas lain bagi pemerintah saat ini. Iklim investasi yang sehat merupakan kunci untuk menarik investasi asing secara lebih berkesinambungan. Ini akan mengurangi defisit necara berjalan dalam jangka panjang, sekaligus mendorong inovasi teknologi yang berdampak positif pada produktivitas dan daya saing.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Ramadan Kelabu Korban Gempa Malang

Kabar Baru Jam 7

Maqam Ibrahim: Mengaji Artefak Arkeologi

Kebebasan dalam Berpakaian

Kabar Baru Jam 8