Bagikan:

Wapres: Pemerintah Antisipasi Pasokan Pangan Jelang Ramadan

"Pemerintah sudah membuat langkah-langkah melalui sidang kabinet untuk mengamankan pasokan maupun mengendalikan harga. Biasanya kalau tradisi Ramadan itu selalu ada kenaikan"

NASIONAL

Selasa, 29 Mar 2022 20:58 WIB

Wapres: Pemerintah Antisipasi Pasokan Pangan Jelang Ramadan

ilustrasi kebutuhan pokok. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta- Pemerintah mengklaim sudah mengamankan pasokan bahan pangan untuk beberapa waktu ke depan.

Menurut Wakil Presiden Ma'ruf Amin, pengamanan pasokan ini dilakukan sebagai langkah antisipasi kenaikan harga yang biasa terjadi menjelang Ramadan dan hari raya Idulfitri.

"Pemerintah sudah membuat langkah-langkah melalui sidang kabinet untuk mengamankan pasokan maupun mengendalikan harga. Biasanya kalau tradisi Ramadan itu selalu ada kenaikan. Kenaikan Ramadan dan Hari Raya (Idulfitri)," ujar katanya di Jakarta, Selasa (29/03/22)

Ma'ruf Amin melanjutkan, pemerintah memiliki penilaian sendiri soal keamanan bahan pangan untuk masyarakat. Ia juga menjamin pemerintah mampu mengendalikannya.

"Kalau dalam batas wajar itu ditoleransi. Tetapi kalau sudah tidak wajar itu nanti diintervensi untuk mengendalikan harga itu. Pasokan barang itu sudah harus disiapkan. Sudah dalam program penyiapan pengadaannya," jelas orang nomor dua di Indonesia itu.

Hanya saja, Wapres Ma'ruf Amin tidak menjelaskan lebih lanjut, komoditas apa saja yang sudah diamankan ketersediaanya itu oleh pemerintah. Ia hanya mengklaim penyiapan pengadaan kebutuhan pokok sudah dilakukan.

Kenaikan Komoditas Pangan Tidak Wajar

Sebelumnya, Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) menilai kenaikan komoditas pangan yang jauh sebelum Ramadan menjelang sangat tidak wajar.

Sekretaris Jenderal Ikappi, Reynaldi Sarijowan menyebut, peningkatan harga bahan pangan karena tingginya permintaan biasanya terjadi pada tiga fase, yakni H-7 sebelum Ramadan, H-3 sebelum Idulfitri dan H+7 setelah Idulfitri.

Namun tahun ini, bahkan sebulan sebelum ramadan harga beberapa komoditas selain minyak goreng, juga sudah melonjak.

"Tentu kami melihat 1 bulan sebelum masuk Ramadan ini pedagang-pedagang kita akhirnya mengurangi volume penjualan. Saya kasih contoh yang tadinya daging tadinya normal nya Rp115.000 sampai Rp120.000 sekarang tembus Rp140.000, akhirnya pedagang kita mengurangi volume penjualan. Waktu harga normal pedagang mampu menyetok kurang lebih hampir 50 kilo sekarang setengahnya kali, karena harganya sudah tinggi, ngambil ke RPH-nya sudah tinggi," kata Reynaldi saat dihubungi KBR, Senin (28/3/2022).

Reynaldi mengatakan, gejolak harga bahan pangan di pasaran sangat dipengaruhi oleh harga minyak goreng yang tinggi sejak akhir tahun lalu.

Baca juga: Wanti-wanti Jokowi ke Kades terkait Pengelolaan Dana Desa

"Pantauan kami memang pangkal persoalannya itu ada di minyak goreng, akhirnya psikologi pasar terganggu beberapa komoditas akhirnya naik karena memang minyak goreng ini kan menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat kita karena hampir 2,4 juta KL itu konsumsi rumah tangga untuk minyak goreng," imbuhnya.


Editor: Kurniati Syahdan

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Season 5 - Eps. 8 Chico