Bagikan:

Tiarap Saat Pandemi, Kemenkes Aktifkan Lagi Layanan Posyandu

Layanan Posyandu menjadi ujung tombak penanganan Balita bergizi buruk atau stunting.

NASIONAL

Kamis, 17 Mar 2022 12:46 WIB

Kemenkes Aktifkan Lagi Layanan Posyandu

Kegiatan penimbangan berat badan bayi dan balita di Posyandu Dahlia, Kota Mataram, NTB (13/2/2020). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Sejak pandemi COVID-19 melanda Indonesia, layanan Posyandu yang aktif semakin berkurang atau kurang dari 20 persen se-tanah air.

Padahal Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan, layanan Posyandu menjadi ujung tombak penanganan Balita bergizi buruk atau stunting.

"Penting sekali agar direaktivasi karena kemarin sejak hadirnya pandemi itu menurun Posyandu yang aktif sampai hanya sekitar 20 persenan, kita harapkan di 2022 ini Posyandu bisa meningkat yang aktif kembali menjadi 20 persenan, dan di 2023 bisa kembali aktif secara penuh, karena mereka perlu sekali untuk melakukan penimbangan, pengukuran tinggi badan, dan melakukan imunisasi bagi para balita tersebut," tutur Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat Kick-Off Audit Kasus Stunting pada Kamis, (17/3/2022).

Menkes menambahkan, jumlah Posyandu yang ada saat ini kurang dari 300 ribu unit.

Tahun ini, Kementerian Kesehatan bekerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri dan BKKBN berusaha meningkatkan Posyandu aktif hingga 80 persen. Selain itu, akan dilakukan juga standarisasi pelayanan kesehatan di Posyandu, Pos Kesehatan Desa, Puskesmas Pembantu, dan Puskesmas.

11 Program Kemenkes Turunkan Angka Stunting

Menkes juga mengatakan, intervensi untuk mencegah stunting perlu dilakukan sebelum dan setelah masa kelahiran. Menkes menyebut, 23 persen bayi terlahir dengan kondisi sudah kekurangan gizi. Penyebabnya karena para remaja putri dan ibu hamil juga sudah mengalami kekurangan gizi dan anemia.

"Dua periode kritis ini kalau memang kita tidak monitor dengan ketat, sang ibu pada saat mengandung, jadi sebelum kelahiran kondisi gizinya seperti apa, kemudian kita juga tidak memonitor dengan ketat sang bayi, pada usia 6 sampai 24 bulan kondisi gizinya seperti apa, maka kemungkinan terjadinya stunting besar sekali," katanya.

Baca juga:

- 1.367 Anak Mengalami Stunting di Semarang

- Dua Strategi Menkes Turunkan Angka Stunting

Menkes Budi Gunadi Sadikin menambahkan, kementeriannya memiliki 11 program spesifik guna menurunkan stunting. Yakni memastikan remaja putri mengonsumsi tablet penambah darah yang dilakukan setiap pekan di sekolah, dan melakukan screening anemia pada siswi di sekolah.

Untuk ibu hamil, dilakukan pemeriksaan kehamilan, pemberian tablet tambah darah dan pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil yang kekurangan energi kronik (KEK).

Selain pada masa sebelum dan saat kehamilan, program intervensi juga dilakukan pada masa setelah kelahiran, yaitu, pemantauan tumbuh-kembang di Posyandu, ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan protein hewani bagi anak usia di bawah dua tahun (baduta), tatalaksana balita dengan masalah gizi, dan peningkatan cakupan serta perluasan jenis imunisasi.

Editor: Fadli Gaper

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Season 5 - Eps. 8 Chico