Bagikan:

Perang Rusia-Ukraina Diramalkan Ganggu Impor Gandum

"Gandum ini merupakan input yang digunakan oleh produsen mie, roti, dan tepung. Ukraina menjadi top supplier gandum untuk Indonesia. "

NASIONAL

Rabu, 02 Mar 2022 13:22 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Prajurit membawa senapan mesin di garis depan di wilayah Donetsk, Ukraina. Senin (21/2/22

Ilustrasi: Prajurit membawa senapan mesin di garis depan di wilayah Donetsk, Ukraina. Senin (21/2/22). (Foto: Antara-Reuters/Gleb Garanich).

KBR, Jakarta— Perang yang masih berkecamuk antara Rusia dan Ukraina diramalkan akan mengganggu pasokan dan stabilitas harga impor komoditas gandum ke Indonesia.

Menurut Peneliti dari lembaga kajian Center for Strategic International Studies (CSIS) Lestary B. Barany, kendati Rusia dan Ukraina bukan merupakan negara tujuan ekspor utama untuk banyak komoditas, tetapi konflik ini akan berimbas pada ketersediaan bahan makanan yang diimpor Indonesia, yakni gandum.

"Gandum ini merupakan input yang digunakan oleh produsen mie, roti, dan tepung. Ukraina menjadi top supplier gandum untuk Indonesia. Lumbung gandum itu banyak di daerah timur di mana daerah ini sangat dekat dengan yang diduduki oleh Rusia. Jadi ancaman terhadap supply side itu semakin terasa real," ujarnya dalam diskusi Menimbang Dampak Konflik Rusia–Ukraina Bagi Indonesia, Rabu (2/3/2022).

Baca Juga:
Harga Minyak Mentah Naik, Pertamina: Tertekan, Tapi Stok Tetap Aman
DPR Ungkap Potensi Dampak Invasi Rusia, dari Gandum hingga Kilang Minyak di Tuban

Dia menyebut, Indonesia mengimpor 75 persen sereal dari Ukraina,  dengan  komponen di dalamnya termasuk gandum. 

Jika merujuk pada data UN Comtrade, pada 2020 Indonesia mengimpor produk sereal hingga US$710,42 juta atau Rp10,20 triliun (kurs: Rp14.366). Sementara, total nilai impor Indonesia dari Ukraina sebesar US$963,06 juta atau Rp13,83 triliun (kurs: Rp 14.366).

Lestary berpendapat, konflik yang terjadi kedua negara itu bakal berimbas terhadap ekonomi Indonesia melalui dua jalur, yakni perdagangan dan keuangan. Untuk saat ini, dampaknya di pasar keuangan masih sangat terbatas dicerminkan dari nilai tukar rupiah yang relatif masih stabil. Pasalnya, Rusia dan Ukraina tidak begitu terikat dalam financial market di Asia.

Sementara di jalur perdagangan,  dampak konflik ini dapat melalui beberapa hal, seperti lonjakan harga komoditas, lonjakan harga energi dan efek kejut pada rantai pasok.

"Kombinasi dari ketiga hal ini akan menambah tekanan bagi perekonomian global, termasuk Indonesia yang masih mengalami pandemi. Di mana pandemi ini melahirkan krisis kesehatan yang juga berdampak pada krisis ekonomi. Dan setelah tiga tahun ini ancaman krisis finansial mulai terasa karena utang semakin membengkak," pungkasnya.

Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Jalan Berliku Warga Ibu Kota Dapatkan Udara Bersih