Bagikan:

Pengamat Minta Pemerintah Tagih Janji Negara Maju soal Dana Perubahan Iklim

" Industri-industri mereka kan maju itu menghasilkan gas rumah kaca yang jauh lebih besar sebenarnya. Tapi kita yang di arah gitu ya."

NASIONAL

Selasa, 15 Mar 2022 12:05 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Karhutla di belakang perumahan warga, Jalan Aloe Vera, Pontianak Selatan, Kalbar. Senin (

Ilustrasi: Karhutla di belakang perumahan warga, Jalan Aloe Vera, Pontianak Selatan, Kalbar. Senin (14/3/2022) . (FOTO:Antara/Jessica Helena Wuysang)

KBR, Jakarta— Pengamat Ekonomi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Bambang Juanda menyerukan agar pemerintah menagih janji negara-negara maju menyalurkan pembiayaan untuk mengatasi perubahan iklim di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Bambang Juanda mengatakan selama ini negara maju hanya bisa menuntut Indonesia untuk menangani perubahan iklim dengan menahan eksplorasi hutan dan perkebunan, tetapi tidak memberikan pendanaan.

"Saya kira sudah mulai Indonesia tapi harus berani juga nagih janji dari luar negeri. Karena ini sebenarnya gas rumah kaca banyak dari luar negeri nih. Industri-industri mereka kan maju itu menghasilkan gas rumah kaca yang jauh lebih besar sebenarnya. Tapi kita yang di arah gitu ya. Ketika mau mengekspor, ini eksploitasi hutannya enggak benar nih Indonesia. Ya kita harus kuat juga dalam negosiasi ini," kata Bambang  dalam pada acara The Pattern of Economic Growth in Indonesia, Selasa (15/3/2022).

Baca Juga:

Bambang menyambut baik rencana pemerintah mengenakan pajak bagi industri yang menghasilkan emisi karbon tinggi. 

Menurutnya, kebijakan itu akan menggerakkan sektor penghasil karbon, seperti manufaktur untuk memproduksi barang yang rendah emisi.

"Memang harus begitu. Sehingga manufacturing itu akan memproduksi produk yang hemat energi, bukan yang material. Ya material dan tidak mengeluarkan gas rumah kaca itu. Karena kalau tidak nanti akan dipajaki lebih besar lagi. Kan arahnya ke sana," ucapnya.

Sebelumnya, pada November 2021, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut  negara-negara maju gagal memenuhi janji untuk mendanai US$100 miliar per tahun atau untuk negara-negara berkembang dalam menghadapi ancaman climate change dalam bentuk program adaptasi maupun mitigasi. Pernyataan ini ia sampaikan melalui akun Instagramnya pada Jumat (5/11/2022).

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Mengkritik Klaim Pemberantasan Korupsi di Era Jokowi

Most Popular / Trending