Bagikan:

Pakar Ingatkan Varian Omicron Siluman Sulit Terdeteksi

Varian ini juga sulit dideteksi oleh tes PCR SGTF atau S-gene Target Failure, sebuah metode untuk mengidentifikasi varian Omicron.

NASIONAL | NUSANTARA

Senin, 07 Mar 2022 14:07 WIB

Author

Heru Haetami

Varian Omicron Siluman Sulit Terdeteksi

Ilustrasi Varian Omicron. (Foto: ANTARA/Shutterstock)

KBR, Jakarta - Kalangan pakar mengingatkan varian Omicron Siluman memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi. Selain itu, varian ini juga sulit dideteksi oleh tes PCR SGTF atau S-gene Target Failure, sebuah metode untuk mengidentifikasi varian Omicron. Sebab menurut pakar mikrobiologi klinik dari Universitas Indonesia Amin Soebandrio, kandungan asam amino alias delesi pada varian itu berkurang. Namun, varian ini masih bisa dideteksi oleh tes PCR dengan jenis sampel varian lain.

"Karena Omicron ada mutasi-mutasi di S-nya, maka dikembangkanlah PCR khusus untuk mendeteksi mutasi spike protein yang ada di Omicron. Tanpa harus melakukan whole genome sequence (WGS), kita sudah bisa mengetahui ini Omicron atau bukan. Tetapi dengan munculnya BA.2, malah tidak terdeteksi dengan PCR khusus Omicron itu. Karena dia tidak memiliki delesi di posisi 69-70. Hingga kemudian si BA.2 ini disebut sebagai Omicron Siluman," kata Pakar Mikrobiologi Klinik dari Universitas Indonesia, Amin Soebandrio kepada KBR, Minggu (6/3/2022).

Amin mendorong pemerintah mengambil langkah antisipatif agar penularan varian ini dapat ditekan.

Baca juga:

- Pemerintah Ajak Warga Waspadai Dampak Omicron Siluman

- Pangkas Masa Karantina, Luhut: Lebih Siap Menghadapi Omicron

Sementara itu, Kementerian Kesehatan menyebut Covid-19 varian Omicron BA.2 berpotensi meningkatkan kasus hingga lebih dua kali lipat dari saat ini. Sekretaris Ditjen Kesehatan Masyarakat di Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi menegaskan, pemerintah akan lebih berhati-hati dalam upaya menurunkan kasus Covid-19.

"Lebih pada peningkatan kasus kembali ya. Jadi kalau misalnya, negara yang sudah ada tren penurunan ya seperti kita ini, kan kita sudah lihat tren penurunan sudah mulai terjadi. Tapi kalau kemudian BA.2 ini mulai mendominasi, yang tadinya upaya kita menekan penularan tadi bisa kemudian menyebabkan kasus itu kembali melonjak. Artinya kita harus tetap waspada, bahwa varian BA.2 ini bisa memberikan pola yang berbeda," ujar Siti Nadia kepada KBR, Minggu, (6/3/2022).

Ia juga menjelaskan, varian yang juga dikenal sebagai Omicron Siluman itu, bisa meningkatkan penularan virus meski kasus varian sebelumnya masih mendominasi.

Siti Nadia menyebut, sudah ada 335 kasus Omicron Siluman di Indonesia.

Editor: Fadli Gaper

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?