Bagikan:

Neraca Dagang Surplus 22 Bulan Berturut-turut, Pertambangan Jadi Pendorong

"Komoditas yang mendorong sektor ini ekspornya tumbuh tinggi adalah komoditas batu bara yang pada Februari ini naik 139,96 persen."

NASIONAL

Selasa, 15 Mar 2022 14:47 WIB

batu bara

Kapal tongkang bermuatan batu bara melintasi Sungai Batanghari, Jambi, Selasa (8/3/2022). (Foto: ANTARA/Wahdi Septiawan)

KBR, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) kembali mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2022 mengalami surplus. Ini tercatat sebagai surplus 22 bulan berturut-turut.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan menyebut neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2022 lalu surplus 3,82 miliar dolar AS.

Surplus ini disebabkan nilai ekspor Indonesia Februari 2022 mencapai 20,46 miliar dolar AS. Angka ekspor pada Februari 2022 naik 6,73 persen dibandingkan Januari 2022. Sementara nilai impor Indonesia Februari 2022 mencapai 16,64 miliar dolar AS.

"Kalau kita lihat tren surplus ini terjadi 22 bulan terakhir ini secara beruntun Indonesia mengalami surplus perdagangan. Sekali lagi harapan kita semua semoga tren surplus ini terjaga di masa-masa berikutnya sehingga pemulihan ekonomi Indonesia bisa berlangsung lebih cepat," kata Margo saat konferensi pers daring, Selasa (15/3/2022).

Baca juga:


Nilai ekspor Februari 2022 di sektor migas sebesar 0,99 miliar dolar AS, naik 10,39 persen dibandingkan Januari 2022. Sedangkan nilai sektor nonmigas Februari 2022 sebesar 19,47 miliar dolar AS, naik 6,55 persen dibanding Januari 2022.

Margo Yuwono mengatakan komoditas nonmigas yang jadi penyumbang terbesar terhadap surplus februari adalah bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan atau nabati serta besi dan baja.

Negara penyumbang surplus terbesar adalah Amerika Serikat, India dan Filipina. Namun di sisi lain Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan dengan negara Tiongkok, Thailand dan Australia.

Margo juga menyebut secara kumulatif yakni Januari hingga Februari 2022 neraca dagang Indonesia mengalami surplus 4,79 miliar dolar AS. Jumlah ini diklaim lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

"Jadi 2 bulan ini surplus kita mencapai 4,79 miliar US Dolar. Mulai dari 2017, 2018, 2019, 2020, 2021 surplus bulan Januari-Februari ini lebih bagus dibanding tahun-tahun sebekumnya," tambahnya.

Jika dibandingkan Februari 2021 (year-on-year), nilai ekspor Indonesia pada Februari 2022 naik 34,14 persen.

Baca juga:


Margo Yuwono mengatakan, selama Januari-Februari 2022, terlihat secara total ekspor nonmigas lebih baik sebelumnya.

Jika dilihat per sektor, ada dua sektor yang tumbuh positif dan dua sektor tumbuh negatif. Tumbuh positif adalah migas (10,39 persen) dan pertambangan dan lain-lain (tumbuh 65,82 persen).

"Komoditas yang mendorong sektor ini ekspornya tumbuh tinggi adalah komoditas batu bara yang pada Februari ini naik 139,96 persen," kata Margo.

Sedangkan sektor yang turun adalah sektor pertanian dan kehutanan yang turun negatif 10,16 persen, serta industri pengolahan turun negatif 1,23 persen.

"Kalau dilihat dari y-on-y, pertumbuhan tertinggi pada sektor pertambangan dan lainnya, yang tumbuh 84,61 persen. Komoditas penyebab ekspor pertambangan pada Februari, adalah batu bara. Pada Februari 2022, dibandingkan Februari 2021, batu bara naiknya 75,42 persen. Juga bijih tembaga, naik 319,95 persen," kata Margo.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?