Bagikan:

Kurangi Konsumsi Solar, PLN Segera Konversi PLTD Jadi PLTS

"Diharapkan dengan program konversi PLTD dengan total 499 MW ini ke EBT akan dapat menurunkan pemakaian BBM sebesar 67.000 kiloliter,"

NASIONAL

Rabu, 23 Mar 2022 12:35 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Komplek PLTU Paiton di Kabupaten Probolinggo, Situbondo, Jatim. (Antara: PT PJB)

Ilustrasi: Komplek PLTU Paiton di Kabupaten Probolinggo, Situbondo, Jatim. (Antara: PT PJB)

KBR, Jakarta— PT PLN (Persero) akan mengonversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di 183 lokasi menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Battery Energy Storage System (BESS).

Pada tahap pertama, konversi energi ini diyakini dapat menghasilkan energi sebesar 212 Megawatt (MW).

Direktur Mega Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Wiluyo Kusdwiharto mengakan, konversi berbasis hybrid ini mampu mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang selama ini digunakan oleh PLTD. 

Pada 2020 lalu, pemakaian BBM jenis solar di PLTD milik PLN mencapai 2,7 juta kiloliter atau setara dengan Rp16 triliun.

"Diharapkan dengan program konversi PLTD dengan total 499 MW ini ke EBT akan dapat menurunkan pemakaian BBM sebesar 67.000 kiloliter, menurunkan emisi CO2 sebesar 0,3 juta ton CO2 serta meningkatkan bauran EBT sebesar 0,15 persen," kata Wiluyo dalam acara Renewable Technology as Driver for Indonesia's De-dieselization, Rabu (23/3/2022).

Baca Juga:

Wiluyo Kusdwiharto menjelaskan, dalam program dedieselisasi itu PLTD eksisting akan dikonversi menjadi tiga skema. 

Tiga skema itu yakni konversi PLTD menjadi energi baru terbarukan (EBT) atau hybrid, konversi PLTD menjadi gas, dan mengonversi PLTD menjadi interkoneksi ke dalam jaringan PLN.

"Program konversi PLTD ke EBT atau hybrid memiliki dua skema, yakni PLTD akan dikonversi menjadi hybrid antara PLTD, PLTS, dan baterai," sambungnya

Menurut Wiluyo, konversi PLTD ke EBT ini dilakukan terutama di daerah-daerah pelosok dan tidak memiliki sumber EBT atau alternatif lainnya seperti air. 

Jumlah PLTD di seluruh Indonesia saat ini mencapai 5.200 unit. Pembangkit itu tersebar di 2.130 lokasi yang mayoritas berada di remote area.

Waluyo mengatakan, dalam jangka menengah PLN menargetkan bauran EBT sebesar 23 persen pada 2025.

Peralihan menuju EBT ini mengedepankan keseimbangan antara suplai dan permintaan, ketersediaan sumber EBT di daerah setempat, keandalan pasokan listrik, keberlanjuan pasokan listrik, dan keekonomian proyek EBT.

Selain itu, tambahnya, berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021–2030 target pembangunan EBT PLN mencapai 51,6 persen atau sebesar 20,9 GW pembangkit baru EBT.

"Terdiri antara lain pembangkit hydro 10,4 GW, pembangkit geotermal 3,4 GW, pembangkit solar photovoltaic 4,7 GW, dan others rewneble energy 2,5 GW. Pengembangan 4,7 GW photovoltaic tentunya termasuk adalah program de-dieselization ini, yaitu berupa program konversi antara PLTD dengan PLTS secara hybrid," paparnya.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ikhtiar Sorgum untuk Substitusi Gandum

Most Popular / Trending