Bagikan:

Kredit Kendaraan Jelang Lebaran Diprediksi Masih Terganggu Pandemi

Berkaca pada situasi sekarang ini, banyak masyarakat yang memutuskan untuk lebih berhati-hati mengambil kendaraan baru maupun bekas.

NASIONAL | KABAR BISNIS

Jumat, 04 Mar 2022 19:59 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Kawasan Jl. Gatot Subroto padat kendaraan pada H-2 Lebaranmeski PSBB masih berlaku, Jakar

Ilustrasi: Kawasan Jl. Gatot Subroto padat kendaraan pada H-2 Lebaran meski PSBB masih berlaku, Jakarta . Selasa (26/5/20). (Foto: Antara)

KBR, Jakarta— Momentum Hari Raya Idulfitri pada tahun ini diramalkan tidak akan berpengaruh besar mendongkrak permintaan mobil dan sepeda motor di Tanah Air.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan, permintaan kredit menjelang hari libur nasional kali ini justru akan mengganggu penjualan kendaraan lantaran Indonesia masih diliputi situasi pandemi.

"Memang tidak terlalu pengaruh pada hari raya. Malah kalau hari raya nanti liburnya banyak mungkin penjualannya akan terganggu. Tapi biasanya, menjelang hari raya banyak promo-promo dan itu tepat waktunya bagi orang yang ingin membeli dan mengganti kendaraan yang sudah tua itu waktunya," kata Suwandi kepada KBR, Jumat (4/3/2022).

Berkaca pada situasi sekarang ini, lanjutnya, banyak masyarakat yang memutuskan untuk lebih berhati-hati mengambil kendaraan baru maupun bekas. 

Ia beralasan kesadaran masyarakat untuk mengukur kemampuan bayar angsuran mereka sudah semakin tinggi. Ditambah mereka ingin menghindari terkena daftar hitam di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK dan BI Checking jika terjadi kasus gagal bayar.

Baca Juga:


"Kalau dulu kan orang enggak peduli, kalau sekarang orang sangat peduli. Kalau sampai dia kena SLIK atau BI Checking-nya, dia tidak akan bisa dapat kredit lain lagi. Hanya karena kredit motor, enggak bisa dapat kredit besok dan lusa maupun kredit rumah. Mereka terhambat. Rata-rata sangat hati-hati hari ini," sambungnya.

Oleh sebab itu, Suwandi mengimbau kepada masyarakat untuk lebih bijak sebelum memutuskan mengambil pinjaman agar nantinya daftar riwayat kredit mereka tidak masuk dalam daftar hitam.

Suwandi memproyeksi, pada tahun ini multifinance akan bertumbuh 5-6 persen. Taksiran tersebut merupakan hitungan konservatif jika Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berlangsung dalam waktu yang cukup lama. 

Di sisi lain, kata Suwandi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru optimistis multifinance dapat tumbuh hingga 12 persen mengukur pada besarnya likuiditas yang ada pada 2022.

"Diharapkan OJK kita bisa tumbuh di atas 12 persen. Tapi kalau secara medium proyeksi atau medium base case, mungkin sekitar 7-9 persen. Saya mencoba membuat tiga proyeksi melihat keadaan," katanya.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Season 5 - Eps. 8 Chico