Bagikan:

Kemendag Perkirakan Harga Pangan dan Komoditas 2022 Bakal Penuh Gejolak

"Saya ingin menegaskan bahwa tahun 2022 ini bukan tahun yang mudah. Saya memprediksi bahwa tahun ini penuh dengan tantangan. Tahun yang penuh dengan gejolak."

NASIONAL

Kamis, 10 Mar 2022 14:43 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Mendag Muhammad Lutfi memantau harga sembako di Pasar Raya Padang, Sumbar. Jumat (25/2/22

Ilustrasi: Mendag Muhammad Lutfi memantau harga sembako di Pasar Raya Padang, Sumbar. Jumat (25/2/22). (FOTO: Antara/Muhammad Arif)

KBR, Jakarta— Menteri Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi memperkirakan tahun ini akan menjadi situasi yang sulit bagi pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan dunia. 

Ia beralasan, beberapa harga pangan dan komoditas serempak ikut melonjak tajam dalam beberapa bulan terakhir.

"Saya ingin menegaskan bahwa tahun 2022 ini bukan tahun yang mudah. Saya memprediksi bahwa tahun ini penuh dengan tantangan. Tahun yang penuh dengan gejolak. Tahun 2021, meski pun kita di tengah Covid-19 kita melewatinya dengan baik. Tapi sebagian besar karena kegiatan ekonomi menurun, maka semua harga bisa kita lalui dengan stabil. Inflasi berjalan dengan baik, NTP (Nilai Tukar Petani) naik juga baik. Ini merupakan hasil yang baik," ujarnya pada Pembukaan Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2022, Kamis (10/3/2022).

Lutfi mengatakan kinerja ekonomi pada tahun ini diprediksi berbanding terbalik dengan 2021 saat pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai bangkit. 

Saat ini, katanya, terjadi lonjakan pada indeks-indeks harga pangan di organisasi pangan dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO). Indeks harga pangan naik 140,7 poin atau naik sebesar 20,7 persen year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga:

"Ini angka yang tertinggi sejak 2011 ketika itu terjadi juga super cycle economic seperti ini, kenaikannya hanya 137,6. Artinya temperatur sudah jauh lebih tinggi dibandingkan 2011. Oleh sebab itu kita juga melihat beberapa indikator, misalnya harga minyak nabati sudah naik 1,7 poin atau naik hampir 27 persen dibandingkan periode yang sama," paparnya.

Persoalan itu juga diperparah dengan terjadinya gangguan cuaca dan gangguan rantai pasok yang terjadi akibat pandemi serta konflik antara Rusia dan Ukraina yang berpotensi menjadi masalah besar di masa mendatang. 

Apalagi, katanya, masalah pandemi juga tak kunjung selesai sehingga membuat masalah semakin menjadi kompleks.

Lebih lanjut, Lutfi bercerita, invasi Rusia ke Ukraina telah memicu sanksi ekonomi dan beberapa negara diprediksi akan melemahkan proses globalisasi yang dimulai lebih dari 30 tahun yang lalu. 

Rantai pasok global yang diterapkan lebih dari 30 tahun lalu berpotensi bisa berakhir kapan saja dengan invasi yang terus berlanjut. Terutama dengan adanya sanksi-sanksi yang diberikan negara-negara Eropa dan Amerika terhadap Rusia.

"Ekonomi pertumbuhannya sudah turun. Ekspor Amerika sudah turun minus 3 persen. Bahkan Eropa sudah double digit turunnya menyebabkan ini akan menjadi mata rantai yang akan langsung bersentuhan dengan Indonesia. Tahun lalu ekspor nonmigas kita mencapai rekor yang terbaik, lebih tinggi dibandingkan pada 2011. Sudah mencapai lebih dari US$231 miliar. Surplus di bagian nonmigas kita mencapai US$48 miliar. Angka yang kita capai ini, empat dari lima barang yang kita ekspor adalah barang-barang industri. Dan dibandingkan 2011 di mana empat dari lima adalah barang-barang komoditas," imbuhnya.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Edu Talk IV YPA-MDR: Go Digital Melalui Media Ajar Interaktif