Bagikan:

Kapan Harga Kedelai Turun? Ini Prediksi Kemendag

"Perkiraan kami, harga kedelai baru akan mulai turun nanti setelah puasa dan lebaran. Perkiraan tersebut di luar prediksi invasi antara Rusia dan Ukraina,"

NASIONAL

Kamis, 31 Mar 2022 20:08 WIB

Kapan Harga Kedelai Turun? Ini Prediksi Kemendag

Ilustrasi perajin tahu tempe. (Foto: Antara/Prasetya Fauzani)

KBR, Jakarta - Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan memprediksi harga kedelai baru akan turun setelah lebaran.

Menurutnya, tingginya harga kedelai impor masih akan berlanjut saat ramadan.

"Perkiraan kami, harga kedelai baru akan mulai turun nanti setelah puasa dan lebaran. Perkiraan tersebut di luar prediksi invasi antara Rusia dan Ukraina," katanya saat Webinar yang diselenggarakan Divisi Humas Mabes Polri, Kamis (31/3/2022).

Oke mengatakan, pemerintah saat ini masih tetap mengupayakan ketersediaan stok dan pasokan kedelai di pasaran. Kata dia, kepastian harus dilakukan agar perajin tahu tempe bisa terus bertahan dan berproduksi.

"Dalam rangka menghadapi puasa dan lebaran ini, kita pastikan dulu stoknya tersedia. Apalagi kalau kedelai, karena kalau kita tidak pastikan tersedia stok walaupun harga tinggi, maka 150 ribu perajin tahu tempe akan terancam kehilangan pekerjaan," jelasnya.

Oke menambahkan, pemerintah juga akan menyalurkan subsidi harga kedelai untuk 200 ribu ton selama empat bulan. Tujuannya, lanjut dia, agar beban harga di tingkat produsen tahu tempe bisa tereduksi.

"Menugaskan Bulog untuk mensubsidi harga sebanyak 800 ribu ton, dengan 200 ribu ton perbulan selama empat bulan, sehingga pengrajin tahu tempe ini bisa tetap menjalankan usahanya sampai puasa dan lebaran," ungkapnya.

Harga Daging Sapi Malah Tak Terkendali

Sementara itu, harga daging sapi malah makin tak terkendali di pasaran. Fluktuasi harga daging sapi ini, kata Oke, dipicu oleh nihilnya stok cadangan daging sapi Bulog, awal tahun ini.

"Posisinya saat ini, kenapa harga daging segar ini menjadi liar di atas Rp140 ribu? Karena pada awal tahun itu Bulog kosong stok daging bekunya. Sehingga, daging segar ini tidak ada penyangganya. Saat ini masih terasa karena realisasi importasi Bulog menurut saya agak terlambat sampai bulan Maret ini baru masuk 19 ribu ton, tapi langsung didistribusikan ini untuk puasa dan lebaran agak terganggu," jelas dia.

Berita lainnya: 

Oke juga membandingkan harga daging sapi yang lebih terkendali, menjelang Ramadan tahun lalu.

"Kita bandingkan pada periode 2021, kenaikan harga daging segar bisa ditahan karena Bulog masih tersedia daging beku 15 ribu ton di akhir tahun 2020, yang stok carry over ke 2021," tuturnya.

Oke memperkirakan meroketnya harga daging sapi akan berkontribusi signifikan memicu inflasi. Apalagi, kebutuhan daging sapi saat ramadan dan lebaran akan melonjak.

"Daging sapi pada bulan Februari tidak memberikan kontribusi yang signifikan, tetapi diperkirakan pada puasa dan lebaran ini akan terjadi angka-angka yang signifikan sehingga perlu dilakukan langkah tindaklanjutnya," pungkas Oke Nurwan.

Editor: Kurniati Syahdan

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?