Bagikan:

Harga Minyak Dunia Meroket, Peneliti: APBN Akan Tertekan

"Tentu ini akan memengaruhi berdampak pada sisi fiskal karena akan memberikan tekanan pada pemerintah"

NASIONAL

Rabu, 02 Mar 2022 13:20 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Pengendara mengisi BBM jenis Pertalite di SPBU Pertamina, Jakarta. Jumat, (24/2/21). (Fot

Ilustrasi: Pengendara mengisi BBM jenis Pertalite di SPBU Pertamina, Jakarta. Jumat, (24/2/21). (Foto: Antara/Akbar Nugroho).

KBR, Jakarta— Konflik Rusia dan Ukraina menimbulkan ketidakpastian terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Salah satu pengaruh yang paling terasa saat ini ialah meroketnya harga minyak mentah dunia jenis brent hingga menebus US$109 per barel pada hari ini, Rabu (2/03/2022).

Peneliti dari lembaga kajian Center for Strategic International Studies (CSIS) Lestary B. Barany mengatakan, kenaikan harga minyak dunia itu turut memberikan tekanan pada harga minyak Indonesia. Meroketnya harga minyak  membuat pengeluaran dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk subsidi minyak juga ikut membengkak.

"Kalau kita lihat, asumsi makro untuk APBN 2022 harga minyak berada di posisi US$63 per barel. Jadi selisihnya sangat banyak. Tentu ini akan memengaruhi berdampak pada sisi fiskal karena akan memberikan tekanan pada pemerintah dan akan berujung pada Kemenkeu dan juga dari sisi neraca Pertamina," katanya dalam diskusi Menimbang Konflik Rusia–Ukraina Bagi Indonesia, Rabu (2/2/2022).

Baca Juga:
Harga Minyak Mentah Naik, Pertamina: Tertekan, Tapi Stok Tetap Aman
DPR Ungkap Potensi Dampak Invasi Rusia, dari Gandum hingga Kilang Minyak di Tuban

Menurut Lestary, naiknya harga minyak mentah dunia juga memberikan tekanan pada sisi produksi domestik. Apalagi, banyak industri yang masih bergantung terhadap komoditas minyak. Kondisi ini diperkirakan akan mengerek inflasi ke tingkat yang lebih tinggi. Namun, katanya, laju inflasi akibat kenaikan harga minyak itu akan mulai terlihat pada kuartal II/2022.

"Selain tekanan pada inflasi yang didorong meningkatnya harga minyak, terjadi juga kenaikan harga komoditas. Di satu sisi, kenaikan harga komoditas memberikan keuntungan dalam jangka pendek untuk Indonesia karena harga komoditas seperti baru bara dan CPO (crude palm oil) untuk ekspor mengalami peningkatan," sambungnya.

Kata  Lestary, dalam jangka menengah jika harga minyak naik dan terjadi resesi global, maka permintaan dari negara-negara tujuan ekspor terhadap sejumlah komoditas itu dapat mengalami penurunan. Artinya, dalam periode tersebut, akan turut memberikan tekanan untuk perekonomian Indonesia.

Dia melanjutkan, berdasarkan data  dari Oxford Economics, krisis yang terjadi diperkirakan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi global akan turun sekitar 0,2 persen. Rusia akan mengalami kerugian yang paling besar terhadap gross domestic product (GDP) hingga 2024.

Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Edu Talk IV YPA-MDR: Go Digital Melalui Media Ajar Interaktif