Bagikan:

Harga Elpiji Nonsubsidi, Pertamina Masih Pantau Dampak Konflik Rusia-Ukraina pada CPA

"Apakah nanti menjelang Lebaran akan turun? Kalau nanti CPA akan turun, insyaAllah tidak akan ada penyesuaian harga lagi. Tapi kalau ini naik, kita monitor dulu perkembangan seperti apa."

NASIONAL

Selasa, 01 Mar 2022 13:37 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Pekerja memasang gas LPG untuk bahan bakar gas oven roti di Jonggrangan, Klaten, Jawa Ten

Ilustrasi: Pekerja memasang gas LPG untuk bahan bakar gas oven roti di Jonggrangan, Klaten, Jawa Tengah. Selasa (1/3/22). (Foto: Antara/ Aloysuis Jarot).

KBR, Jakarta— PT Pertamina (Persero) belum bisa memastikan perubahan harga liquefied petroleum gas (LPG) atau gas elpiji nonsubsidi menjelang Lebaran. Mengingat harga acuan untuk LPG, yakni Contract Price Aramco (CPA) melonjak hingga US$775 per metrik ton pada Februari ini.

Pjs. Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Subholding Commercial & Trading Pertamina, Irto Ginting mengatakan, harga acuan itu 21 persen lebih tinggi dibandingkan harga rerata sepanjang tahun lalu yang mencapai US$637 per metrik ton.

"Apakah nanti menjelang Lebaran akan turun? Kalau nanti CPA akan turun, insyaAllah tidak akan ada penyesuaian harga lagi. Tapi kalau ini naik, kita monitor dulu perkembangan seperti apa. Ditambah lagi ini ada konflik Rusia dan Ukraina. Ini kita masih monitor. Biasanya di bulan Maret keluar penetapan untuk CPA Aramco-nya berapa. Kita akan monitor itu, mudah-mudahan tidak ada kenaikan signifikan agar harga bisa ter-maintenance dengan baik dan masyarakat juga bisa membeli dengan harga yang tidak terlalu sering berubah," kata Irto Ginting ketika dihubungi KBR, Selasa (1/3/2022).

Baca Juga:

Saat ini, kenaikan harga LPG nonsubsidi mencapai Rp2.000 per kilogram (kg) untuk tabung kemasan 5,5 kg dan 12 kg. 

Jika harga jual LPG 12 kg di tingkat pengecer sebelumnya dipatok Rp170.000, maka akan naik menjadi Rp195.000. Sementara harga LPG 12 kg di agen akan dibanderol di bawah Rp190.000.

"Tinggal dikalikan saja berapa kg, jadi variatif. Untuk yang 12 kg kisarannya untuk daerah yang dekat-dekat dengan suplai masih sekitar hampir Rp190.000 per tabung 12 kg. Kalau yang 5,5 kg tentu di bawah itu. Kalau yang jauh dari suplai tentu ada biaya tambahan transportasinya," ungkapnya.

Irto menjelaskan, pengguna LPG nonsubsidi masih relatif rendah, yaitu sebesar 6,7 persen dari total konsumsi LPG domestik. 

Namun demikian, dengan kenaikan harga ini, dia tidak menampik adanya peluang peralihan konsumen. Ia mengingatkan agar konsumen LPG nonsubsidi tidak beralih menggunakan LPG public service obligation (PSO) ukuran 3 kg yang disubsidi untuk masyarakat kurang mampu.

Harga LPG Melon Dipastikan Tidak Naik

Irto menegaskan Pertamina tidak akan menaikkan harga LPG PSO berukuran 3 kg. Keputusan ini berlaku lantaran pemerintah telah memberikan subisidi yang cukup besar untuk LPG tabung melon mencapai Rp11.000 per kg. 

Padahal, lanjutnya, jika diakumulasikan sesuai harga acuan CPA dengan tanpa adanya subsidi, harga LPG melon bisa mencapai lebih dari Rp50.000 per tabung.

"Misalnya orang beli satu tabung head-nya itu Rp20.000. Padahal dari angka itu, pemerintah mengeluarkan tiga kali Rp11.000. Jadi ada nilai subsidi tambahan dari pemerintah sampai Rp33.000. Jadi harganya satu tabung itu sudah di atas Rp50.000. Tapi supaya masyarakat yang belum mampu ini bisa membeli 3kg, pemerintah memberikan subsidi untuk yang 3kg tadi. Sehingga masyarakat mampu membeli hanya sekitar Rp20.000. Jadi besar sekali subsidi yang dikeluarkan pemerintah," pungkasnya.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Pengungsi dan Persoalan Regulasi di Indonesia