Bagikan:

BMKG: La Nina Bertahan Hingga Pertengahan 2022, Puncak Musim Kemarau Agustus

"La Nina bertahan hingga pertengahan 2022. Artinya, potensi peningkatan curah hujan masih dapat terjadi hingga pertengahan 2022. 47 persen wilayah zona musim diprediksi terlambat masuk musim kemarau."

NASIONAL

Jumat, 18 Mar 2022 11:33 WIB

Author

Fadli Gaper

kemarau

Warga beraktivitas di jalan banjir di kawasan Butuh, Purworejo, Jawa Tengah, Kamis (17/3/2022). (Foto: ANTARA/Andreas Fitri)

KBR, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, puncak musim kemarau di Indonesia tahun ini akan terjadi mulai Agustus 2022 nanti.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengimbau seluruh mitra, kementerian dan lembaga, serta masyarakat, mewaspadai wilayah-wilayah yang akan memasuki musim kemarau lebih awal.

Terutama di sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan bagian Selatan, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua bagian Timur.

"Puncak musim kemarau tahun 2022 di wilayah Indonesia diperkirakan umumnya terjadi pada bulan Agustus 2022, yaitu sebanyak 52,9 persen zona musim. Kemudian kami simpulkan bahwa dalam prakiraan musim kemarau tahun 2022 ini, musim kemarau pada tahun ini akan datang lebih lambat dibandingkan normalnya," ujar Dwikorita Karnawati saat jumpa pers daring Prakiraan Musim Kemarau 2022, Jumat (18/3/2022).

Dwikorita Karnawati menambahkan, masyarakat dan pemerintah daerah di wilayah rawan kekurangan air bersih diimbau segera menyimpan air pada masa peralihan musim hujan ke kemarau. Penyimpanan air bisa dengan memanfaatkan danau, waduk juga embung.

Baca juga:


La Nina

BMKG juga memperkirakan anomali cuaca La Nina masih akan bertahan hingga pertengahan 2022.

"La Nina bertahan hingga pertengahan 2022. Artinya, potensi peningkatan curah hujan masih dapat terjadi hingga pertengahan tahun ini. Dan 47 persen wilayah zona musim di Indonesia diprediksi terlambat masuk musim kemarau," kata Dwikorita.

BMKG sebelumnya merilis prakiraan musim hujan 2021-2022. Hingga awal Maret 2022, hampir seluruh zona musim di wilayah Indonesia atau sekitar 97,08 persen telah memasuki musim hujan. Sedangkan, sebagian besar zona musim sudah masuk musim hujan pada Oktober-November 2021.

Dwikorita mengatakan kondisi iklim di Indonesia sangat bergantung pada kondisi di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

Dari pantauan BMKG hingga pertengahan Februari 2022, pemantauan terhadap anomali iklim global di dua samudera itu menunjukkan La Nina masih berlangsung. Sedangkan di Samudera Hindia, kondisi Indian Ocean Dipole (ICD) mode menunjukkan kondisi netral.

Sedangkan indeks Southern Pacific Oscillation (ENSO), menunjukkan wilayah Pasifik terutama wilayah tengah dalam kondisi La Nina atau dingin.

"Kondisi tersebut diprediksi akan terus melemah dan menuju netral pada Maret-April-Mei 2022. Sedangkan Indian Ocean Dipole mode akan kembali netral pada Maret hingga Agustus 2022," kata Dwikorita.

BMKG akan terus memperbarui kondisi itu setiap 10 hari.

Baca juga:


Peralihan angin

Kedatangan musim kemarau berkaitan erat dengan peralihan angin baratan atau monsoon Asia, menjadi angin timuran atau monsoon Australia.

Hingga Februari 2022, aliran angin monsoon Asia masih cukup kuat dan diperkirakan berlangsung hingga Maret 2022. BMKG memperkirakan peralihan angin monsoon terjadi seiring aktifnya monsoon Australia pada akhir April 2022 dan mendominasi wilayah Indonesia pada Mei hingga Agustus 2022.

"Dari total 342 zona musim, sebanyak 29,8 persen zona musim akan mengawali musim kemarau pada April 2022. Yaitu zona musim di Nusa Tenggara, juga zona musim di Bali dan sebagian Jawa," kata Dwikorita.

Sebanyak 22,8 persen zona musim masuk kemarau pada Mei, meliputi sebagian Bali, Jawa, sebagian Sumatera, sebagian Kalimantan, Maluku dan sebagian Papua.

Sedangkan 23,7 persen zona musim masuk musim kemarau pada Juni 2022. Meliputi Sumatera, sebagian Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan sebagian Papua.

"Untuk 23,7 persen wilayah lainnya, awal musim kemarau tersebar di Januari, Maret, Juli, Agustus, September dan Oktober," kata Dwikorita.

Jika dibanding rerata klimatologis awal musim kemarau, yaitu rerata klimatologis mulai 1991 sampai 2020, maka awal musim kemarau awal 2022 diperkirakan mundur pada 163 zona musim atau 47,7 persen. Sedangkan 90 zona musim atau 26,3 persen memasuki musim kemarau sama dengan normalnya.

"Sebanyak 89 zona musim atau 26 persen zona musim mengalami musim kemarau maju, bahkan sebagian sudah mulai," kata Dwikorita.

Sedangkan sifat hujan pada musim kemarau tahun ini, dibandingkan rerata klimatologis akumulasi curah hujan musim hujan dari 1991-2020, secara umum kondisi musim kemarau 2022 diperkirakan normal atau sama dengan rerata klimatologis pada 197 zona musim (57,6 persen) zona musim.

Sedangkan 104 zona musim (34,4 persen) mengalami musim kemarau di atas normal atau musim kemarau lebih basah. Sedangkan 41 zona musim (12 persen) akan mengalami musim kemarau di bawah normal, atau lebih kering dimana curah hujan lebih rendah.

Puncak musim kemarau di wilayah Indonesia diperkirakan terjadi umumnya pada Agustus 2022, sebanyak 52,9 persen zona musim. Sedangkan 19,9 persen zona musim masuk puncak musim kemarau pada Juli 2022.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Edu Talk IV YPA-MDR: Go Digital Melalui Media Ajar Interaktif