Rawat Lingkungan sambil Rekreasi di Kampus Tabalong

Taman Tabalong difungsikan sebagai ruang terbuka hijau sekaligus sarana edukasi lingkungan

Kampus Tabalong, Cirebon, Jawa Barat. Taufiq Hidayat/KBR

Selasa, 23 Maret 2021

Selama bertahun-tahun, permukiman sekitar Sungai Cikalong, Kota Cirebon, Jawa Barat menjadi langganan banjir. Pengerukan dan normalisasi sungai selalu masuk program rutin penanggulangan bencana. Akhir 2020 lalu, pemerintah setempat menginisiasi pembangunan taman di bantaran Sungai Cikalong sebagai sarana edukasi warga untuk ikut menjaga sungai dan lingkungan. Simak kisahnya yang disusun Jurnalis KBR Valda Kustarini

- Rawat Lingkungan sambil Rekreasi di Kampus Tabalong
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Cirebon - Niko bercerita tentang Kawasan Model Utilitas Sungai Taman Belajar Cikalong (Kampus Tabalong). Ini adalah ruang terbuka hijau yang berada di bantaran Sungai Cikalong, Kota Cirebon, Jawa Barat. Oleh pemerintah setempat, dikembangkan menjadi taman rekreasi dan edukasi yang diresmikan pada akhir 2020 lalu.

"Memang kami sengaja nggak nge-share bahwa ini akan jadi Kampus Tabalong. Kami hanya berdiri saja orang sudah penasaran. Orang pada datang menanyakan fungsinya dan akhirnya begini dan banyak orang nanya, jadikan apa?" kata Nico, pengelola Kampus Tabalong.

Taman baru ini menarik perhatian warga karena keberadaan bangunan berbentuk prisma segitiga, yang merupakan kantor Kampus Tabalong.

"Karena nggak ada pintunya, jadi kita buka terus. Paling aktif itu jam 8, tapi 6-7 pagi sudah ada masyarakat yang jogging. Nah nanti efektif buka sekitar jam 8, jam 8 kami bersih-bersih dulu, jam 9-10 sudah mulai jalan. Kalau cuacanya mendung biasanya dari pagi sampai siang sudah mulai ramai, kalau panas jam 11 itu pulang nanti datang lagi sore," terang Nico.

Terdapat beberapa titik lokasi berswafoto di taman. Dekorasinya pun unik karena memanfaatkan bahan-bahan daur ulang.

"Mereka selfie, ada beberapa tempat selfie yang dibuat sama Pak Kuwu (kepala desa-red), semuanya dari barang seadanya dari barang-barang bekas yang kita temui. Kita bikin gimana caranya benda-benda itu bisa menjadi tempat selfie yang bagus. Ada ban bekas, ada bekas kabel PLN, ada jaring, ada ranting pohon apapun yang ada di sini kita manfaatkan," ujar dia.

Banyak lokasi swafoto yang bisa dimanfaatkan pengunjung Taman Tabalong

Hari itu, Anggi Pratama membawa keluarganya ke Taman Tabalong.

"Lagi main saja, memang sengaja mau ke sini. Ada adik, kakak, dan sepupu, ke sini mau foto-foto, bagus buat foto-foto," kata Anggi.

Warga Harjamukti, Cirebon ini penasaran setelah melihat unggahan foto rekannya di media sosial

"Tahu dari teman-teman banyak yang post aku penasaran jadi ke sini saja. Lebih dibanyakin lagi kali ya di foto-fotonya, tempat duduknya juga, bisa main lebih lama," ujar Anggi.

Berbagai komunitas bisa menggelar acara hingga pelatihan di Taman Tabalong. Menurut Nico, kegiatan di sana sudah ditunggu-tunggu warga yang jenuh dengan pandemi.

"Banyak juga yang sudah pensiun atau jenuh di rumah mereka ke sini, bawa tanaman terus mereka bisa menanam karena lahan kami luas sekali. Banyak masyarakat yang hanya lewat, datang, lalu mereka mau belajar, seperti cara menanam, teater, musik tari, akhirnya banyak anak yang datang ke sini, ingin ikut bergabung, ikut belajar," kata Nico.

Pesan dan edukasi cinta lingkungan ditunjukkan dalam pengelolaan taman

"Kami pasang biopori di beberapa titik, air wudu tidak dibuang percuma, tapi kami manfaatkan untuk kolam ikan. Dari situ kotorannya masuk ke resapan air, jadi di taman ini, terakhir sebelum masuk ke resapan, kita untuk nyiram tanaman," jelas Nico.

Taman Tabalong menjadi pilihan warga melepas penat di masa pandemi

Sekretaris Dewan Kota Cirebon Agus Sukmanjaya tak menyangka Tabalong yang dulunya lahan kosong penuh alang-alang, bisa disulap menjadi taman belajar. Kata dia, fungsi utama Tabalong adalah sebagai daerah resapan banjir. Atas kerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung, kawasan itu dikembangkan menjadi situs ekowisata dan edukasi publik.

"Cikalong itu memang 'langganan banjir' karena endapan lumpurnya di sungai cukup tinggi. Selama ini baik pemerintah daerah dan BBWS itu hampir setiap tahun melakukan pengerukan dan lain sebagainya. Tapi tahun depan itu case-nya sama lagi terjadi endapan lagi. Kemudian sampahnya cukup banyak, banjirnya masih terjadi. Maka mungkin Tabalong ini jadi solusi yang setidaknya bisa memonitor, memelihara kondisi ini supaya tetap juga terawat dan bersih," tutur Agus.

Ke depan, Taman Tabalong juga diharapkan bisa mengungkit ekonomi warga lewat pemberdayaan usaha kecil menengah, tanpa menanggalkan peran utamanya sebagai ruang terbuka hijau. Kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci suksesnya realisasi.

"Saya ingin Tabalong ini menjadi proto-type sebuah kerja sama antara masyarakat dengan pemerintah daerah dan stake holder. Ini bisa diduplikasi di tempat lain, banyak persoalan terjawab dengan kolaborasi ini. Anggaran pemerintah daerah juga menjadi lebih efisien," pungkasnya.

Editor: Ninik Yuniati