Menakar Efektivitas Plasma Konvalesen

"Jadi kalau melihat dari data tersebut, maka kita bisa melakukan evaluasi pemberian plasma konvalesen membutuhkan penelitian lebih lanjut sehingga kita bisa memberikan terapi plasma konvalesen,"

NASIONAL | RAGAM

Minggu, 07 Mar 2021 07:20 WIB

Author

Muthia Kusuma, Adonia Naya

Menakar Efektivitas Plasma Konvalesen

Ilustrasi: Pengambilan plasma konvalesen dari pasien sembuh covid-19 sembuh di UDD PMI Banyumas, Jateng, Senin (07/12/20). (Antara/Idhad Zakaria)

KBR, Jakarta-   Institut Kesehatan Nasional Amerika Serikat (NIH) resmi menyetop uji coba plasma konvalesen pada terapi pengobatan pasien Covid-19 yang bergejala ringan dan sedang. Pasalnya, terapi plasma konvalesen dinilai tidak efektif bagi kelompok tersebut. Penelitian serupa di India dan Argentina yang menyebut bahwa terapi plasma konvalesen tidak signifikan mengurangi risiko kematian pasien Covid-19 dengan gejala berat. 

Tapi di Indomesia,  Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo menyerukan agar penyintas Covid-19 seperti dirinya juga turut melakukan donor plasma konvalesen.

"Ini adalah pertama kali saya memberikan donor plasma konvalesen setelah sejak tanggal 12 Februari lalu saya dinyatakan negatif Covid. Setelah juga saya dirawat 20 hari. Pada Jumat lalu saya sudah dilakukan pemeriksaan apakah layak atau tidak," ucap Doni Monardo melalui YouTube BNPB, Senin, (1/3/2021).

Plasma konvalesen adalah plasma darah yang didonorkan dari penyintas Covid-19 dengan harapan mampu menyumbang antibodi kepada pasien Covid-19 yang masih dalam masa perawatan.  
 
"Kenapa gerakan ini penting? karena ini merupakan rasa terimakasih kita kepada mereka yang telah membantu dan berjasa sehingga kita bisa selamat . Juga rasa syukur kita kepada Tuhan YME, Allah SWT yang telah memberikan kesempatan untuk sembuh. Besar harapan saya untuk semua pihak yang pernah sembuh dari covid atau penyintas covid bersedia menjadi pendonor," imbuh Doni.

Menurut Kementerian Kesehatan pemberian plasma konvalesen merupakan pengobatan tambahan pada pasien dengan derajat sedang. Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono menyebut efektivitas terapi plasma konvalesen masih proses uji klinis oleh peneliti yang ditunjuk Kemenkes.

"Dari berbagai jurnal yang kami kumpulkan. Dari analisis tersebut terlihat dari oddrasio 0,566 dan p 0,01 angka kematian menurun setelah memberikan terapi plasma konvalesen. Tetapi lama perawatan tidak bermakna dengan odd rasio 0,5 hingga 0.7. Jadi kalau melihat dari data tersebut, maka kita bisa melakukan evaluasi pemberian plasma konvalesen membutuhkan penelitian lebih lanjut sehingga kita bisa memberikan terapi plasma konvalesen," ungkap Dante dalam webinar yang disiarkan Kemenristek pada Kamis, (11/3/2021).

Wamenkes Dante Saksono menambahkan, hasil penelitian menunjukkan lebih dari 95 persen pasien gejala berat dan onset gejala lebih dari 8 hari, pemberian plasma darah tidak bermanfaat. Tahun ini, Kemenkes melanjutkan uji klinis dengan menambah 200an sampel yang masih kurang pada tahun lalu.

Sementara itu, Deputi Bidang Penelitian Transasional Lembaga Eijkman, Jakarta Prof David Handojo Muljono menjelaskan hasil uji klinis plasma konvalesen di seluruh dunia bervariatif karena dua faktor utama. Yakni aspek donor meliputi ketersediaan dan antibodi. Kemudian aspek pasien yang waktu penerimaan donor harus tepat dengan gejala sedang menuju berat. Tujuannya untuk mendapat manfaat antivirus dan regulator sistem imun sesuai yang diinginkan.

"Tentang uji klinis sekarang sedang berlangsung. Memang uji klinis tidak gampang, karena harus kontrol. Tidak hanya satu sisi saja tetapi juga dipilih secara acak dan diberi ada yang tidak kita ikuti semua. Kita bandingkan, ini akan berjalan. Nah ini semoga tidak lama lagi akan membuahkan hasil," ungkap David dalam konferensi pers virtual BNPB, Rabu, (3/3/2021).

Meski uji klinis di Indonesia masih berlangsung, Palang Merah Indonesia mencatat sudah ada 15 ribu penyintas Covid-19 yang mendonor plasma konvalesen. Ketua Bidang Unit Donor Darah PMI Pusat Linda Lukitari Waseso mengatakan, ada sejumlah syarat administratif, termasuk syarat kesehatan untuk menjadi pendonor.

"Yang dilakukan Palang Merah Indonesia sesuai dengan apa yang disarankan oleh BPOM untuk pemeriksaan titel antibodinya. Jadi memang tidak bisa orang tanpa gejala kadang-kadang bukan berarti tidak ada titel antibodinya. Biasanya ada tapi tidak mencukupi. Seperti itu adalah persyaratan (pendonor). Jadi sebelum menjadi pendonor kovalesen ada persyaratan administrasi dan laboratorium yang harus dipenuhi. Jadi satu hari sebelum menjadi pendonor plasma konvalesen harus diambil darahnya dulu untuk di screening. Selain diperiksa darahnya memenuhi kriteria, juga diperiksa adakah potensi penyakit menular lewat darah misalnya yaitu hepatitis B, C, sifilis maupun HIV Aids," ungkapnya, dalam konferensi pers virtual BNPB, Rabu, (3/3/2021).

Penelitian medis di Indonesia belum menyimpulkan efektifitas pemberian plasma konvalesen. Namun Khoirul Hadi, Pasien Covid-19 yang dirawat pada Desember lalu merasakan ada perbaikan setelah menerima donor plasma konvalesen dari penyintas Covid-19.

"Saya sudah mendapatkan terapi konvalesen sebanyak 2 kantong sekitar 5 hari yang lalu. Rasanya setelah mendapatkan terapi donor konvalesen plasma saya langsung mengalami cukup perbaikan yang luar biasa baik meskipun belum sembuh total. Karena memang sewaktu donor masuk saturasi oksigen saya tidak begitu baik. Saat ini saya sedang memakai alat bantu semacam alat pompa oksigen," ungkapnya dalam video yang diunggah di media sosial Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Editor: Rony Sitanggang


(Redaksi KBR mengajak untuk bersama melawan virus covid-19. Selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan dengan 3M, yakni; Memakai Masker, Menjaga Jarak dan Mencuci Tangan dengan Sabun.)

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Belajar dari Lonjakan Kasus di India

Kabar Baru Jam 7

Gua Hira dan Cahaya Semesta

Mr. Spock dan Homer Simpson: Dinamika Perilaku di Masa Pandemi

Kabar Baru Jam 7