Covid-19 Paksa Publik Adaptasi Cara Belanja

Tren belanja daring meningkat imbas pembatasan sosial

BERITA | NASIONAL

Selasa, 31 Mar 2020 00:28 WIB

Author

Valda Kustarini, Wahyu Setiawan

Covid-19 Paksa Publik Adaptasi Cara Belanja

Pembatasan pengunjung di salah satu supermarket di Depok, Jawa Barat, Senin (30/3/2020). ANT/Indrianto Eko

KBR, Jakarta - Wabah Covid-19 memaksa masyarakat melakukan adaptasi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya cara belanja. 

Rizky, karyawan swasta di Jakarta, kini enggan berbelanja kebutuhan pokok ke tempat ramai seperti di supermarket atau mal. Minimarket dekat rumah menjadi pilihan utama karena memudahkannya menjaga jarak aman (physical distancing).

"Paling antisipasinya pakai masker dan hoodie saja. Belanjaannya sudah di-list dulu supaya durasi di minimarketnya tidak terlalu lama," kata Rizky. 

Sepulang dari belanja, Rizky rajin melakukan sejumlah langkah pencegahan masuknya virus Corona. Ia bakal mengeluarkan semua barang dari tas belanja. Kemudian tas itu dan jaket bertudung (hoodie) yang barusan dikenakannya dijemur di depan rumah. 

"Terus masuk kamar mandi, cuci tangan dan kaki pakai sabun. Baru masukin belanjaan ke dalam rumah. Agak lebay ya. Tapi antisipasi karena di rumah ada nenek dan kakek," kata dia.

Perubahan cara belanja juga dilakukan Ria, pekerja lepas di Bandung. Ia sekarang mengurangi intensitas belanja di pasar tradisional karena kesadaran warga tentang bahaya Corona masih rendah. 

"Ke pasar pakai masker dan bawa hand sanitizer. Di sama malah dilihatin. Ada bapak-bapak penjual bertanya, neng kenapa pakai masker, oh Corona ya. Jadi kayak masih jadi bahan becandaan, agak ngeri juga," ujar Ria. 

Di Jakarta, cara belanja di pasar tradisional mulai diubah sebagai langkah adaptasi. Ini lantaran pasar menjadi tempat pertemuan banyak orang sehingga rentan penularan. 

Direktur Utama PD Pasar Jaya, Arif Nasrudin mengklaim banyak pasar yang sudah memberlakukan prosedur pencegahan Covid-19. 

"Dari pintu (masuk) tadinya banyak, kita buat lebih sedikit. Ada screening, deteksi suhu badan dan hand sanitizer. Yang flu akan mendapat masker gratis," kata Arif. 

Pasar Jaya juga gencar memperkenalkan cara belanja via daring untuk mengurangi kontak langsung antara penjual dan pembeli. Masyarakat bisa memesan produk yang ingin dibeli dengan menghubungi langsung pedagang atau koordinatornya. Pesanan dapat diantar dengan menggunakan ojek daring.

"Ini saya lagi coba bicara dengan beberapa federasi ojek online, supaya kita coba kerja sama untuk radius 1-2 km. Tapi saat ini dibuat fleksibel saja antara pedagang dan pembeli," lanjut Arif. 

Tren belanja produk sehari-hari lewat daring makin diminati masyarakat saat pandemi Covid-19. 

Sayurbox, platform daring bisnis sayur, buah dan bahan pangan, termasuk yang kebanjiran pesanan. Lonjakannya hingga 4 kali lipat dari saat normal. 

Wakil Direktur Keuangan Sayurbox, Arif Zamani mengatakan, tiap hari pihaknya melayani paling banyak 6 ribu order di Jakarta dan sekitarnya. Batas pesanan itu juga demi menjaga kesehatan para karyawan. 

"Pekerja di lapangan juga kita kurangi harinya supaya ada untuk istirahat. Jadi memang limit kapasitas kita segitu dulu untuk memastikan pengiriman lebih rapi, kualitas ke costumer tetap bagus, tapi juga karyawan kita tetap safe," ucap Arif.

Produk Sayurbox diambil langsung dari petani lokal di Jawa Barat dan Jawa Timur. Hingga kini pasokan masih lancar karena kasus Corona terpusat di Jakarta. 

"Di daerah belum terdampak Covid. Semoga pemerintah ada langkah aktif untuk lebaran terutama. Karena kita tidak tahu pandeminya sampai berapa lama," kata dia. 

Sampai saat ini, menurut Arif, belum ada lonjakan harga signifikan. Namun, hal itu berpotensi terjadi apabila penyebaran Corona masif di daerah-daerah. 

"Harga tidak ada kenaikan drastis. Kecuali untuk barang-barang seperti bawang putih dan bawang bombay yang suplai dari impor," lanjutnya.

Arif memastikan ada pengetatan prosedur kebersihan dan keamanan produk-produk Sayurbox sejak Covid-19 merebak. 

"Standar pengemasan, sebelum ada Covid, penggunaan alat pelindung diri sudah dilakukan. Hanya selama Covid ini kita menambah suplai hand sanitizer dan disinfektan yang lebih reguler. Kita juga harus menjaga produk pangan tidak terkontaminasi disinfektan," pungkas Arif. 

Editor: Ninik Yuniati 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18