Kenaikan TDL Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar Februari 2017

"Efeknya sudah kita lihat pada Januari lalu, pada Februari ini adalah untuk pelanggan yang membayar dengan pasca bayar."

BERITA , NASIONAL

Rabu, 01 Mar 2017 16:21 WIB

Author

Dian Kurniati

Kenaikan TDL Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar Februari 2017

Ilustrasi. (Foto: setkab.go.id)


KBR, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi pada Februari 2017 mencapai 0,23 persen. Sumbangan terbesar inflasi Februari berasal dari kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) rumah tangga berdaya 900 VA.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, inflasi Februari utamanya didorong pelanggan listrik 900 VA berskema pasca bayar.

"Penyebab kelompok ketiga ini inflasinya disebabkan penyesuaian subsidi listrik untuk rumah tangga yang mempunyai daya 900 VA. Efeknya sudah kita lihat pada Januari lalu, pada Februari ini adalah untuk pelanggan yang membayar dengan pasca bayar. Jadi untuk tarif listrik, sumbangan atau andil kepada inflasi sebesar 0,17 persen," kata Suhariyanto di kantornya, Rabu (01/03/17).

Baca juga:


Meski begitu, Suhariyanto mengatakan, inflasi pada Februari 2017 sebesar 0,23 persen masih termasuk terkendali. Adapun inflasi dari tahun ke tahun (year on year/Februari 2016-Februari 2017) sebesar 1,21 persen, dan inflasi tahun kalender (Januari-Februari 2017) sebesar 3,83 persen.

Suhariyanto mengatakan inflasi Februari 2017 memang tertinggi dibanding 2015 yang deflasi 0,36 dan Februari 2016 yang deflasi 0,09 persen. Namun, nilai itu masih lebih rendah dibanding Februari 2014 yang inflasi 0,26 persen dan Februari 2013 yang inflasi 0,75 persen.

Dari 82 kota yang disurvei BPS, 62 kota mengalami inflasi, sedangkan 20 kota lainnya terjadi deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Manado dengan angka 1,16 persen, dan deflasi tertinggi adalah Jambi dengan nilai 1,40 persen.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Ngopi Bersama Azul Eps 38: Kementerian Baru, Atur-atur Nomenklatur

Kabar Baru Jam 15

Cek Fakta Top 5 Hoax of The Week 17-24 Agustus 2019

Kabar Baru Jam 14

Cerdaskan Petani Dengan Rumah Koran