covid-19

Aktivis Kendeng: Kita Semua Akan Mati, Cuma Jalan Mana yang Akan Dipilih...

Patmi ibarat padma atau bunga bagi para petani Kendeng. Meninggalnya Patmi justru memperbesar semangat petani memperjuangkan tanah leluhurnya.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 22 Mar 2017 19:53 WIB

Author

Dian Kurniati

Aktivis Kendeng: Kita Semua Akan Mati, Cuma Jalan Mana yang Akan Dipilih...

Para aktivis lingkungan dan HAM melanjutkan aksi pasung kaki dengan semen di depan Istana Merdeka, Rabu (22/3/2017). Mereka menuntut Presiden Joko Widodo menghentikan izin lingkungan pendirian Pabrik


KBR, Jakarta - Delapan aktivis dari berbagai organisasi kemanusiaan dan lingkungan menggelar aksi semen kaki di depan Istana Merdeka, pada Rabu (22/3/2017).

Koordinator LSM KONTRAS, Yati Andriyani yang turut menyemen kakinya mengatakan, aksi ini merupakan kelanjutan dari protes mereka terhadap pembangunan dan penambangan pabrik semen di Pegunungan Kendeng.

Selain itu, aksi para aktivis itu juga untuk melanjutkan perjuangan Patmi, peserta aksi semen kaki yang meninggal dunia, pada Selasa (21/3/2017).

"Bu Patmi melakukan perjuangan yang sangat besar, dan perjuangan mereka adalah perjuangan melawan mafia hukum, dan korporasi yang mengendalikan negara. KONTRAS tentu saja hadir untuk mereka yang hak-haknya dirampas negara. Dan hari ini, kita ingin sampaikan pada negara, Presiden, penyelenggara negara, masyarakat, bahwa ini adalah bentuk, simbol, perjuangan Ibu Patmi yang tidak selesai," kata Yati di depan Istana Merdeka, Rabu (22/3/2017).

Yati mengatakan, aksi itu untuk melanjutkan aksi semen kaki para petani Pegunungan Kendeng yang sempat terhenti, karena Patmi meninggal.

Yati mengatakan meninggalnya Patmi tidak akan menghentikan aksi petani menolak pabrik semen di Kendeng. Meninggalnya Patmi justru memperbesar semangat para petani serta menggalang dukungan yang dari besar masyarakat.

Selain Yati, aktivis yang menyemen kaki itu di antaranya Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Alghifari Aqsha, Koordinator Jaringan Antitambang (JATAM) Merah Johansyah, serta Direktur LBH Bandung Willy Hanafi.

Selain mereka, ada seratusan orang dari masyarakat sipil dan lembaga swadaya masyarakat turut hadir dalam aksi solidaritas tersebut.

Baca juga:


Memperbesar momentum

Para petani Pegunungan Kendeng yang menolak kehadiran pabrik semen PT Semen Indonesia di Rembang Jawa Tengah tidak merasa patah semangat dengan meninggalnya Patmi, salah seorang peserta aksi dipasung semen.

Anggota Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) Koko mengatakan para petani justru lebih termotivasi untuk terus melanjutkan aksi menyemen kaki di depan Istana Merdeka.

Koko mengatakan rekannya, Patmi ibarat padma atau bunga bagi para petani Kendeng. Meninggalnya Patmi justru memperbesar semangat petani memperjuangkan tanah leluhurnya.

"Kita semua pasti akan mati. Cuma, kita yang bisa memilih jalan mana yang akan dipilih, jalan mencintai ibu pertiwi atau mendurhakai bumi pertiwi," kata Koko di Kantor LBH Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Koko mengatakan, bagi petani Kendeng, meninggalnya Patmi merupakan momentum untuk memperbesar semangat mencari keadilan atas nasib mereka sendiri, karena sampai saat ini tidak ada pembelaan dari pemerintah.

"Semoga dengan pulangnya Bu Patmi, seorang penjuang perempuan yang tangguh dan berani dari Pegunungan Kendeng menjadi awal momentum muncul dan tumbuhnya bunga perlawanan dari seluruh penjuru nusantara," lanjut Koko.

Untuk sementara waktu para petani Kendeng akan kembali ke Pati dan Rembang, Jawa Tengah karena mereka tengah dalam masa berkabung. Namun, kata Koko, setelah itu para petani itu akan kembali ke Jakarta untuk menggelar aksi menyemen kaki jilid ketiga di depan Istana Merdeka.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Tuberkulosis (TB) pada Anak