Bagikan:

Negosiasi FTA, Pemerintah Anggap Permintaan Uni Eropa Memberatkan

“Mestinya dengan Uni Eropa, kita berani untuk ambil risiko. Beda dengan dua kompetitor lain: India dan China,”

BERITA | NASIONAL

Kamis, 03 Mar 2016 13:57 WIB

Author

Dian Kurniati

Negosiasi FTA, Pemerintah Anggap Permintaan Uni Eropa Memberatkan

Ilustrasi (Foto: Caelie Frampton/Flickr/CC)

KBR, Jakarta– Pemerintah menilai permintaan Uni Eropa dalam negosiasi perjanjian perdagangan bebas (free trade agreement) terlalu memberatkan Indonesia. Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, saat ini pemerintah tengah menghitung untung dan rugi atas perjanjian itu.

Kata Darmin, pemerintah akan mengambil sikap yang berani atas permintaan yang diajukan Uni Eropa.

“Mestinya dengan Uni Eropa, kita berani untuk ambil risiko karena kita tidak bersaing dengan mereka. Beda dengan dua kompetitor lain: India dan China,” kata Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution  dalam siaran pers, Kamis (03/03/16).

Darmin mengatakan, penawaran pemerintah Indonesia masih jauh dari harapan Uni Eropa. Misalnya saja, saat ini, Uni Eropa meminta Indonesia membebaskan bea masuk sebesar 95 persen pos tarif. Padahal, permintaan itu dianggap pemerintah sebagai liberalisasi dan akan memukul industri dalam negeri. Selain itu, pemerintah Uni Eropa juga meminta penghapusan bea keluar, seperti perjanjian antara Uni Eropa dan Vietnam.

“Kita harus punya milestone yang mau dicapai. Kalau tidak, perundingannya akan berputar-putar, tidak mencapai target,” ujar Darmin.

Saat ini, pemerintah Indonesia sedang dalam proses negosiasi perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa dalam skema Comprehensive Economic Partnership Agreement. Hari ini, Menko Perekonomian  menggelar rapat koordinasi bersama Menteri Perdagangan, Menteri Luar Negeri, dan perwakilan Badan Koordinasi Penanaman Modal.


Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Subsidi dan Tata Kelola Pupuk Indonesia