covid-19

Ndorokakung Diminta Minta Maaf kepada Keluarga Wiji Tukul dan Xanana Gusmao

Aktivis Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat ini dianggap mendukung perjuangan kemerdekaan Timor-Leste.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 18 Mar 2016 18:02 WIB

Ndorokakung Diminta Minta Maaf kepada  Keluarga Wiji Tukul dan Xanana Gusmao

KBR, Jakarta - Penyair asal Solo, Wiji Thukul diganjar penghargaan dari Asosiasi Pejuang "Brigada Negra" yang diketui Xanana Gusmao. Sertifikat pengakuan ini diterima langsung oleh anak Thukul, Fitri Nganthi Wani di sela seminar "Konferensi Internasional Kedaulatan Laut Timor-Leste adalah Hak yang Tak Terbantahkan" yang digelar pada 16 Maret 2016 di ibu kota Dili.

Aktivis Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat ini dianggap mendukung perjuangan kemerdekaan Timor-Leste. Wiji Thukul dan Bimo Petrus (keduanya adalah korban penghilangan paksa 1997/ 1998) adalah dua dari delapan orang Indonesia yang mendapat Sertifikat atas jasa mereka dalam proses membangun solidaritas nasional dan internasional untuk kemerdekaan Timor-Leste.

Sementara terkait fitnah akun Path Ndorokakung terhadap Thukul, Korban Penghilangan Paksa 1997/1998  IKOHI dan Sahabat IKOHI membantah. Sebelumnya akun ini mempertanyakan kelayakan Wiji Thukul, tempat dan bagaimana Thukul tewas dan tuduhan Fitri Nganthi Wani yang mendapat hadiah uang. Selain itu menulis dengan menyebut Tukul sebagai perakit bom berdasar pernyataan Xanana Gusmao. Wicaksono, pemilik akun Path ndorokakung sudah meminta maaf.

"Kalau sekarang ada pihak yang tak berkenan atas status itu, aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Bukan tujuanku untuk membuat luka atau mengaburkan masalah." Ujar Ndoro melalui Path.

Tetapi, penyebaran fitnah tersebut melalui media sosial telah kadung melukai hati keluarga, sahabat dan komunitas-komunitas yang tengah memperjuangkan pertangungjawaban Negara dan melaksanakan Rekomendasi Pansus Orang Hilang DPR RI (28 September 2009) yang berisi:

1. Merekomendasikan Presiden untuk membentuk Pengadilan HAM Ad-hoc;
2. Merekomendasikan Presiden serta segenap insitusi pemerintah serta pihak terkait untuk segera melakukan pencarian terhadap 13 aktivis yang masih hilang;
3. Merekomendasikan Pemerintah untuk merehabilitasi dan memberikan kompensasi kepada keluarga korban yang hilang;
4. Merekomendasikan Pemerintah agar segera meratifikasi Konvensi Anti Penghilangan Paksa sebagai bentuk komitmen dan dukungan untuk menghentikan praktik Penghilangan Paksa di Indonesia.

IKOHI mendesak akun Ndorokakung meminta maaf kepada keluarga Wiji Thukul, khususnya kepada Fitra Nganthi Wani dan kepada semua keluarga korban pelanggaran HAM di Indonesia. Wicaksono juga diminta bertanggung-jawab terhadap segala dampak yang diakibatkan dari penyebaran fitnah tersebut.


Desakan juga datang dari Panitia pemberi penghargaan. Berikut siaran pers dari ASSOCIACAO DOS COMBATENTES DA BRIGADA NEGRA di  Dili Timor Leste.

Klarifikasi Atas Pemberian di Path Saudara Ndorokakung

Dis ekitar Penghargaan Kepada Wiji Thukul

1. Bahwa ACBN (Associacao Dos Combatentes Da Brigada Negra) pada tanggal 16 Maret 2016 bertempat di Dili di Gedung Delta Nova telah mengadakan rangkaian acara dalam bentuk "Seminar Tentang Batas Laut" yang dilanjutkan dengan pemberian sertifikat kepada 500 pejuang dari berbagai organsiasi di Timor Leste sebagai pengakuan bahwa telah berjasa dalam perjuangan kemerdekaan.dan kepada aktivis solidaritas internasional untuk Timor Leste dari Indonesia, Australia, Jepang dan Portugal. Pemberian sertifikat oleh Kay Rala Xanana Gusmao BUKAN MEWAKILI PEMERINTAH REPUBLIK DEMOKRATIK TIMOR LESTE, TAPI SEBAGAI KETUA ACBN.

2. Bahwa Organisasi ACBN yang didirikan pada tahun 2013 adalah sebuah lembaga Organisasi Masyarakat Sipil yang legal dan diakui secara hukum di Timor Leste dan di Ketuai oleh Kay Rala Xanana Gusmao. Organisasi ini adalah asosiasi bagi para pejuang Brigada Negra yang didirikan pada tahun 1995 oleh Kay Rala Xanana Gusmao, sebagai Komandan Tertinggi Falintil (Tentara Pembebasan Timor Leste). Kegiatan ACBN melingkupi bantuan kemanusiaan, mendokumentasikan arsip-arsip perjuangan dan menyelenggarakan berbagai seminar.

3. Kami hendak meluruskan berita dalam media sosial path dari akun bernama “Ndorokakung” tentang berita yang TIDAK BENAR bahwa “ Wiji Thukul adalah orang Indonesia yang memasok dan merakit bom yang dipakai oleh tentara Timor Leste untuk melawan ABRI. Kata Xanana pada waktu itu tentaranya kehabisan amunisi lalu datanglah Thukul yang kemudian membantu bikin Bom. “

Berita tersebut adalah TIDAK BENAR. Tidak pernah ada pernyataan tersebut dari Xanana Gusmao.

4. Bahwa pernyatan saudara Ndorokakung tentang “ Thukul yang merakit bom atau pintar merakit bom” TIDAK PERNAH DIKATAKAN OLEH XANANA GUSMAO“ Juga dikatkan oleh Ndorokakung bahwa "Thukul mati terbunuh diperbatasan oleh anggota ABRI. Di bom." JUGA TIDAK PERNAH DINYATAKAN OLEH XANANA.Yang kami ketahui dari Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI), Wiji Thukul adalah salah seorang aktivis yang dinyatakan korban "penghilangan paksa' menjelang reformasi pada bulan Maret 1998.

5. Anak sulung Thukul bernama Fitri Nganthi Wani menerima sertifikat penghargaan mewakili ayahnya Wiji Thukul bersama para aktivis demokrasi Indonesia dijaman Orde Baru seperti: Budiman Sudjatmiko, Dita Indah Sari, Danial Indrakusuma, Wilson, Bima Petrus Anugrah, Jacobus Eko Kurniawan, Petrus Hari Hariyanto, Andi Arief (tidak hadir) dan Fransisca Ria Susanti. Para penerima sertifikat dianggap memberikan kontribusi penting dalam perjuangan demokrasi dan solidaritas untuk Timor Leste. Selain menerima sertifikat, Budiman Sudjatmiko dan Danial Indrakusuma juga hadir sebagai narasumber dalam Kenferensi Tentang Penentuan Batas Laut.

6. Pada acara penyerahan sertifikat pada Nganthi Wani, Xanana bahkan terharu saat Wani usai membaca sajak “Peringatan” karya ayahnya Wiji Thukul dan memberikan sambutan tentang rasa kehilangan keluarga atas bapaknya yang diabaikan negara sebagai korban. Xanana dan para undangan bahkan terharu . Secara spontan Xanana berdiri dan memeluk Wani lalu memberikan karangan bunga untuk menguatkan Wani.

7. TIDAK BENAR pernyataan Ndorokakung “Wani, anaknya juga diberi uang dalam acara...”. FAKTANYA Xanana memberi himbauan kepada pemerintah Republik Demokratik Timor Leste melalui Kementerian Solidaritas Sosial agar dapat memberi bantuan kemanuisaan kepada aktivis yang dulu pernah bersolidaritas dan sedang mengalami kesulitan. Kementerian Solidaritas Sosial ini juga sudah pernah memberikan dukungan kemanusiaan seperti ini kepada beberapa aktivis solidaritas dari negara lain.

8. Kami berharap saudara “ Ndorokakung” yang menyebarkan berita tanpa konfirmasi dan sumber yang jelas DAPAT MENGHUBUNGI XANANA GUSMAO DAN PANITIA ACARA YANG TIDAK DIKONFIRMASI DAN DIWAWANCARAI TERLEBIH DAHULU SEBELUM PERYATAAN NDORO DISEBAR MELALUI MEDIA SOSIAL PATH DAN KEMUDIAN DISEBAR LUASKAN TANPA PERTANGGUNG JAWABAN.

9. Kami mendesak Ndorokakung untuk dapat mempertanggungjawabkan dan segera menarik semua pernyataannya dan MEMINTA MAAF kepada Xanana Gusmao, Panitia Acara dan TERUTAMA MEMINTA MAAF KEPADA KELUARGA WIJI THUKUL .

10. Kami berharap media di Timor Leste dan Indonesia dapat lebih berhati-hati dalam menerima berita dari sumber yang tidak jelas disekitar berbagai pemberitaan Wiji Thukul disekitar acara penyerahan sertifikat pada 16 Maret 2016 lalu. Kami berharap media dapat langsung menghubungi panitia menyangkut acara seminar dan pemberian sertifikat.

Kami juga berharap media dapat memberikan EMPATI kepada Keluarga Wiji Thukul sebagai korban pelanggaran HAM di masa lalu. Cukuplah mereka menjadi korban kejahatan HAM masa lalu dan tidak menambah beban baru. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

DE-SI (Depresi to Prestasi)

War On Drugs

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10