Korupsi di Unair, KPK Bidik La Nyala Mattalitti

KPK supervisi dengan Kejaksaan Tinggi Jawa Timur terkait kasus La Nyala Mattalitti

BERITA | NASIONAL

Rabu, 30 Mar 2016 08:12 WIB

Author

Randyka Wijaya

Korupsi di Unair, KPK Bidik La Nyala Mattalitti

Ketua KPK Agus Rahardjo mendengarkan pertanyaan saat berdiskusi dengan wartawan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (29/3). Foto ANTARA

KBR, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan koordinasi-supervisi penanganan korupsi yang melibatkan Ketua federasi sepakbola nasional PSSI, La Nyala Mattalitti. Menurut Ketua KPK, Agus Rahardjo, penyidik tengah mendalami keterlibatan LA Nyala dalam dugaan korupsi pengadaan alat kesehatan di Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya. Sedangkan, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur mengusut korupsi pembelian IPO Bank Jatim pada 2012 sebesar Rp 5,3 miliar.

"Kita ke Surabaya itu sebetulnya memang ada kasus yang kita supervisi, tetapi dalam waktu yang sama juga ada kasus lain sebetulnya. Jadi kalau berbicara mengenai nama tadi (La Nyalla) yang bersangkutan sudah pernah diperiksa di KPK untuk kasus itu (pengadaan alkes UNAIR). Teman-teman (penyidik) tadi ke sana mencari alat bukti atau clue atau petunjuk tentang kasus itu," ujar Agus Rahardjo di Gedung KPK Jakarta, Selasa (29/03/2016).

Kemarin, 29 Maret 2016, KPK menggeledah Kantor PT Pembangunan Perumahan (PP) di Pusat Pertokoan Juanda Bussines Center, Sidoarjo. Menurut Agus, pengusutan korupsi ini hampir rampung. "Ya dalam waktu yang tidak terlalu lama, KPK bisa aja naikkan levelnya," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua KPK, Laode Syarif mengatakan lembaga siap membantu Kejati mempercepat kasus La Nyala ini. "Kalau Kejaksaan membutuhkan bantuan untuk informasi dan bukti-bukti untuk mempercepat proses itu, kami lakukan. Tidak perlu kami mengambil alih atau kami melimpahkan ke sana," ungkapnya menimpali.

Saat ini, La Nyalla telah ditetapkan sebagai buronan atau Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh Kejati Jatim setelah 3 kali mangkir dari panggilan pemeriksaan. Tetapi La Nyala tercatat tidak berada di dalam negeri. Ia terbang ke Malaysia pada 17 Maret 2016 atau sehari sebelum Direktorat Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM menerima surat permintaan pencegahan. 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Sejumlah Kendala Vaksinasi Lansia

Kabar Baru Jam 8

Perkara Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika

Kabar Baru Jam 10