Ini Dia Lokasi Nonton GMT Terlama di Indonesia

Di Maba, Maluku Utara, GMT terjadi selama lebih dari 3 menit.

BERITA | NASIONAL | NASIONAL

Selasa, 08 Mar 2016 15:08 WIB

Author

Iriene Natalia

Ini Dia Lokasi Nonton GMT Terlama di Indonesia

Ilustrasi gerhana matahari. (Foto : Antara)

KBR, Jakarta - Besok, Rabu (9/3/2016) adalah hari yang istimewa sekaligus langka. 

Hari itu kita akan melihat proses bulan menutup pandangan atas matahari atau yang dikenal sebagai gerhana matahari. Bumi akan menjadi gelap karena sinar matahari terhalang bulan. 

Di Indonesia, sejumlah titik bisa menyaksikan Gerhana Matahari Total (GMT), sementara negara- negara di kawasan Asia Tenggara juga dapat menikmati gerhana matahari parsial (sebagian). 

Gerhana Matahari Total terakhir kali terjadi pada tahun 1983. Dan tahun ini, fenomena gerhana matahari akan melintasi 12 provinsi meliputi Bengkulu, Sumatra Selatan, Jambi, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Sementara untuk Jakarta dan pulau Jawa bisa menyaksikan gerhana matahari sekitar 50-60 persen saja.

Tak heran jika kemudian momen ini jadi agenda wisata khusus bagi wisatawan lokal dan mancanegara yang berdatangan ke berbagai lokasi pengamatan di berbagai daerah. Dengan rangkaian acara menyambut gerhana matahari itu, mungkin yang paling unik di Maba, Kecamatan Halmahera Timur, Maluku Utara. 

Astronom dari Astronomers Without Borders, Avivah Yamani sangat bersemangat mempersiapkan kelengkapan alat untuk pengamatan gerhana matahari total pertama di abad 21 itu.

“Yang khusus dari daerah ini karena berada di garis totalitas gerhana. Kita bisa melihat totalitas paling lama. Bulan nutupin matahari selama 3 menit 17 detik. Paling lama dibanding tempat lain," kata Avivah. 

"Selama cahaya matahari masih ada, kita harus pakai kacamata filter, teleskop filter, atau proyeksi kamera lubang jarum. Ketika piringan bulan benar-benar nutupin matahari secara total, kita bisa lihat dengan mata telanjang. Tapi setelah bulan mulai meninggalkan matahari, kita harus pake filter lagi karena bahaya untuk mata kita,”

Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Maba juga juga memanfaatkan kesempatan ini kolaborasi dengan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) demi melakukan riset. Saat berbincang dengan KBR melalui sambungan telepon, peneliti matahari LAPAN, Emanuel Sungging sedang bersama peneliti NASA mempersiapkan peralatan pemantau gerhana matahari total besok pagi.

Tak lupa ia mengingatkan masyarakat yang ingin menyaksikan gerhana matahari agar memakai alat khusus.

"Harus pakai kacamata dari bahan black polymer atau teleskop filter. Ini diperlukan untuk melindungi mata dari kerusakan". Alat-alat khusus tersebut, menurutnya, sudah disediakan di sejumlah pos pengamatan LAPAN juga Departemen Pariwisata setempat.

Editor: Citra Dyah Prastuti

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme