Bagikan:

Ini Alasan Indonesia Harus Jadi Pusat Logistik Asia Tenggara

"Kita tidak rela juga, kalau pasarnya di Indonesia tapi yang mendapat keuntungan adalah negara lain"

BERITA | NASIONAL

Kamis, 10 Mar 2016 14:18 WIB

Author

Dian Kurniati

Ini Alasan Indonesia  Harus  Jadi Pusat Logistik Asia Tenggara

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (Foto: Antara)

KBR, Jakarta – Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat logistik Asia Tenggara pada 2019. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, saat ini pusat logistik ASEAN masih ditempati Singapura dan Malaysia. Padahal, Indonesia merupakan hunian bagi 45 persen penduduk ASEAN, sehingga pusat logistik haruslah berada di Indonesia.

“Kita menginginkan Indonesia sebagai logictic hub, terutama untuk bahan baku dan barang modal di Asia Tenggara, karena pabriknya sebagian besar ada di Indonesia, pasarnya pun sebagian besar di Indonesia. Kita tidak rela juga, kalau pasarnya di Indonesia tapi yang mendapat keuntungan adalah negara lain, khusus negara tetangga yang biasanya menjadi pusat logistik,” kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro  di Pusat Logistik Berikat Cakung, Kamis (10/03/16). 

Bambang melanjutkan, "jadi ini adalah impian kita dalam waktu dekat menjadi pusat logistik Asia Tenggara."

Bambang mengatakan, sistem distribusi logistik yang sebelumnya terjadi tidak efisien. Kata dia, biaya logistik itu mencapai 2 sampai 2,5 kali lipat dibanding Singapura dan Malaysia. Pasalnya, semua produk yang diproduksi dan dikonsumsi oleh penduduk Indonesia harus disimpan terlebih dahulu di pusat logistik negara Singapura dan Malaysia. Sehingga, keuntungan dari proses distribusi logistik itu justru dirasakan oleh negara tetangga.

Hari ini, Presiden Joko Widodo atau Jokowi meresmikan Pusat Logistik Berikat (PLB) di kawasan industri Cipta Krida Bahari, Cakung-Cilincing. Jokowi menganalogikan pusat logistik berikat ini sebagai supermarket, sedangkan gudang berikat sebagai toko kecil. Maksudnya, PLB bisa menampung banyak macam barang dengan durasi penimbunan hingga hingga tiga tahun atau sambil menunggu pembeli. Durasi penyimpanan itu lebih lama dibanding gudang berikat yang hanya satu tahun.

Saat ini, sudah ada sebelas perusahaan yang mendapat sertifikat untuk menjalankan fungsi PLB. Perusahaan-perusahaan itu bergerak di berbagai sektor, meliputi minyak dan gas, manufaktur, serta usaha kecil dan menengah.


Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Subsidi dan Tata Kelola Pupuk Indonesia

Most Popular / Trending