DPR Pantau Latihan TNI Di Poso

Pimpinan Komisi Luar Negeri Ahmad Hanafi Rais mengatakan, pemantauan ini untuk memastikan latihan tersebut untuk tujuan pertahanan.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 31 Mar 2015 13:44 WIB

DPR Pantau Latihan TNI Di Poso

Sejumlah personil TNI AD memeriksa rumah warga untuk memastikan telah kosong dan mengungsi di desa Ueralulu, Poso Pesisir, Poso, Sulawesi Tengah, Senn (30/3). Sekitar 900 kepala keluarga yang berada d

KBR,Jakarta - Komisi Luar Negeri DPR akan memantau latihan TNI di Poso. Pimpinan Komisi Luar Negeri Ahmad Hanafi Rais mengatakan, pemantauan ini untuk memastikan latihan tersebut untuk tujuan pertahanan. 

Kata dia, bila ditemukan kejanggalan, pihaknya akan memanggil Panglima TNI dalam rapat kerja gabungan.

"Dari kita, memantau terus apa yang terjadi di Poso, para prajurit kita di TNI. Selama yang dilakukan itu tidak melanggar peraturan perundangan, tentu kita masih menerima. Sehingga kita memantau terus jangan sampai kemudian, ini beralih menjadi hal-hal yang ditakutkan banyak orang, soal darurat militer, dan lain sebagainya,” kata Ahmad Hanafi Rais di DPR, Selasa (31/3/2015).

“Sehingga kita mengawal betul, apa yang dilakukan oleh TNI itu betul-betul untuk latihan perang saja. Hanya untuk menjaga ketertiban bagian dari pertahanan, dan tidak lebih dari itu.” 

Ahmad Hanafi Rais menambahkan, pihaknya menghendaki kejelasan pembagian fungsi antara kepolisian dan TNI. Kata dia, persoalan terorisme menjadi urusan kepolisian. Sementara, TNI menangani problem separatisme. 

"Bagi kami, kalau soal teroris itu urusannya polisi. Kalau separatis, baru urusannya militer, itu yang kita jaga koridor di lapangannya," lanjut Ahmad Hanafi.

Editor: Antonius Eko  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Survei Sebut Mayoritas Masyarakat Ingin Pandemi Jadi Endemi