Pascatewasnya Pamudji, Kapolri: Polisi

Kepolisian Indonesia bakal mengevaluasi anggotanya yang memegang senjata api. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penembakan seperti yang dialami oleh salah satu perwira menenngahnya, AKBP Pramudji, Selasa malam (18/3).

NASIONAL

Rabu, 19 Mar 2014 21:09 WIB

Author

Abu Pane

Pascatewasnya Pamudji, Kapolri: Polisi

Pamudji, Kapolri, Senjata, Sutarman

KBR68H, Jakarta - Kepolisian Indonesia bakal mengevaluasi anggotanya yang memegang senjata api. Ini dilakukan untuk mencegah terjadinya penembakan seperti yang dialami oleh salah satu perwira menenngahnya, AKBP Pramudji, Selasa malam (18/3).

Kepala Kepolisian Indonesia, Sutarman mengatakan, nantinya evaluasi itu dilakukan oleh pemimpin satuan kerja kepolisian di seluruh wilayah. Kata dia, mereka diminta memeriksa ulang psikologi serta kesehatan jasmani polisi pemegang senjata. Bila ditemukan ada polisi yang beremosi tinggi, maka senjatanya wajib ditarik.

"Peminjaman senjata api untuk dinas ini harus melalui proses. Mulai dari pemeriksaan psikologi seperti apa. Kalau dia orang ‘panasan’ dia tidak akan lulus untuk mendapatkan dan memegang senjata api. Ini harus kita ketatkaan dan sudah saya instruksikan ke seluruh daerah untuk melakukan pengetatan dan uji ulang. Apakah memenuhi persyaratan, baik pesyaratan teknis seperti penggunaan senjata itu," ujar Sutarman di Jakarta, Rabu (19/3).

Sebelumnya Kepala Pelayanan Masyarakat Polda Metro Jaya, AKBP Pamudji, diduga tewas ditembak anak buahnya yang berinisial S. Menurut Sutarman, S, saat ini sedang diperiksa di Markas Kepolisian Jakarta. Kata dia, dari pemeriksaan dua saksi, polisi menduga penembakan bermula dari cekcok antara S dan Pamudji. Namun hingga kini belum diketahui hal yang diributkan bawahan dan atasan tersebut.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Omnibus Law untuk Siapa?

Kabar Baru Jam 13

Mengimajinasikan Ibu Kota Baru yang Cerdas dan Berkelanjutan (Bagian 2)