Kenangan Jojon dan Lawakan "Soeharto Bapaknya Monyet"

KBR68H, Jakarta - Celana dinaikan ke atas pinggang, perut gendut ketat terikat gesper. Pakai kemeja warna-warni, dan kumis ala Hitler atau Charly Caplin. Itulah Djuhri Masdjan atau Jojon. Dia pelawak legendaris Indonesia.

NASIONAL

Kamis, 06 Mar 2014 13:46 WIB

Author

Pebriansyah Ariefana

Kenangan Jojon dan Lawakan

jojon, meninggal, soeharto

KBR68H, Jakarta - Celana dinaikan ke atas pinggang, perut gendut ketat terikat gesper. Pakai kemeja warna-warni, dan kumis ala Hitler atau Charly Caplin. Itulah Djuhri Masdjan atau Jojon. Dia pelawak legendaris Indonesia.

Jojon menghembuskan nafas terakhirnya di RS Premier Jatinegara Jakarta pukul 6.04 WIB tadi. Namun sejak Kamis (6/3) dinihari, Jojon sudah dalam keadaan koma. Teman dekat Jojon yang juga pelawak, Doyok, bercerita baru mengetahui Jojon meninggal pagi hari tadi.

"Sejak malam Haji Jojon sudah koma, saya dengar dari anaknya semalam. Nah jam 6 pagi BB dan HP saya sudah bunyi semua. Mas Jojon sudah tidak ada," jelas Doyok saat berbincang dengan KBR68H Jakarta, Kamis (6/3).

Banyak kenangan dan cerita Jojon yang Doyok dengar. Salah satunya soal masalah yang membelit Jojon dengan bekas orang nomor satu di Indonesia, Soeharto. Lawakan Jojon saat itu dianggap menyinggung penguasa 32 tahun itu.

"Kalau di uang Rp 500 itu gambar monyet, kalau di Rp 50 ribu itu bapaknya monyet," begitu penggalan lawakan Jojon saat itu di salah satu stasiun TV nasional tahun 90'an. Uang Rp 50 ribu saat itu memang bergambar Soeharto yang menyebut dirinya sebagai Bapak Pembangunan.

Doyok bercerita, saat itu Jojon tidak sampai dipenjara. Hanya teguran saja, dan kasus itu hanya seminggu bergulir tidak sampai meja hijau.

"Cuma salah paham aja, sudah dapat teguran dari DPR atau siapa gitu. Dia bukan masalah lawakan itu, lawakan itu benar, cuma dia kepeleset aja. Kan dulu uang Rp 500 perak itu gambar orang utan, terus dibalik, itu bapaknya monyet, gambar Pak Harto gitu," jelas Doyok.

Doyok cerita persoalan seperti itu bisa saja terjadi dengan siapapun. Di atas panggung, pelawak musti pintar menjaga ritme dan materi lawakan.

"Kayak dulu Miing nyindir GusDur pakai kacamata hitem, pakai tongkat, pakai peci. Langsung minta maaf, langsung selesai gitu aja, nggak masalah," jelas dia.

Jojon mengawali karier dengan grup lawak Jayakarta Grup bersama Hasanuddin atau U'u, Suprapto atau Esther, Chaplin, dan Cahyono, yang eksis pada tahun 70 dan 80-an. Namun pada era 90-an, satu-persatu anggotanya hengkang. U'u, Esther, Chaplin, dan Jojon memilih bersolo karier dengan menjadi pelawak tunggal.

Ciri khas dari penampilannya adalah kumis kecil ala Charlie Chaplin/Adolf Hitler dan celana bretel menggantung sehingga mudah diingat oleh penggemarnya. Dia juga pernah mengeluarkan album lagu pop Sunda berjudul Pamali.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

RS di Jalur Gaza Kewalahan Tampung Pasien Covid-19

Kabar Baru Jam 7

Kisah Pendamping Program Keluarga Harapan Edukasi Warga Cegah Stunting

Siapkah Sekolah Kembali Tatap Muka?

Eps8. Food Waste