Bagikan:

Disomasi Penyandang Difabel, Kementerian Pendidikan akan Revisi SNMPTN

Kementerian Pendidikan mempertimbangkan untuk merivisi larangan bagi penyandang difabel atau berkebutuhan khusus saat mendaftar ujian dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

NASIONAL

Rabu, 12 Mar 2014 21:11 WIB

Disomasi Penyandang Difabel, Kementerian Pendidikan akan Revisi SNMPTN

Penyandang Difabel, Kementerian Pendidikan, SNMPTN

KBR68H, Jakarta - Kementerian Pendidikan mempertimbangkan untuk merivisi larangan bagi penyandang difabel atau berkebutuhan khusus saat mendaftar ujian dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Kepala Sub Direktorat Kemahasiswaan di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti), Widyo Winarso mengatakan, intitusinya segera menyampaikan usulan revisi dalam rapat bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri. Langkah ini diambil Dikti setelah Kemendikbud mendapat somasi dari Koalisi Penyandang Disabilitas yang menganggap syarat pendaftaran SNMPTN diskriminatif.

"Kami setiba di kantor ini akan segera hubungi pihak-pihak yang berkepentingan dengan SNMPTN. Bagaimana tanggapan mereka, biar nanti mereka segera bertemu dengan majelis rektor itu. Kami tidak bisa menjanjikan juga (kapan direvisi) karena keputusan ada di Majelis Rektor. Dikti itu bukan pengambill keputusan dalam hal ini. Majelis rektor itu keputusan kolektif di dalam forum itulah mereka memutuskan bersama-sama," kata Kepala Direktorat Kemahasiswaan Dikti, Widyo Winarso, Rabu (12/3).

Kepala Sub Direktorat Kemahasiswaan di Dikti, Widyo Winarso menambahkan, syarat pendaftaran itu hanya berlaku untuk ujian SNMPTN undangan. Sedangkan untuk SNMPTN tulis dan jalur mandiri, syarat itu tidak berlaku.

Namun Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) menganggap syarat pendaftaran SNMPTN undangan tetap melanggar Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan. Syarat yang diskriminatif itu adalah larangan bagi tunarungu, tunawicara, tunadaksa, tunanetra, dan buta warna untuk mendaftar ke Perguruan Tinggi Negeri.

Editor: Anto Sidharta

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Aturan Jilbab Sekolah Negeri, Lampu Kuning Arah Pendidikan