Bagikan:

FOMO Sapiens : Konten Pelecehan Seksual dan Medsos Display Affection

"Populernya konten normalisasi pelecehan seksual dan Medsos Display Affection"

NASIONAL | RAGAM

Jumat, 10 Feb 2023 16:10 WIB

FOMO Sapiens : Konten Pelecehan Seksual dan Medsos Display Affection

Ilustrasi highlight berita sepekan. (FOTO : KBR)

KBR, Jakarta – Konten berbau pelecehan seksual kembali viral dan memancing komentar netizen. Konten yang diklaim sebagai prank oleh kreatornya, Talitha Pavita, dinilai sebagai bentuk normalisasi pelecehan seksual dan melemahkan upaya edukasi tentang pelecehan seksual selama ini.

Tidak hanya jadi wadah menyebarkan kemesraan, media sosial juga bisa jadi penyebab perasaan tidak aman atau insecure dalam sebuah hubungan bahkan dapat memicu perpisahan. Studi Northwestern University Amerika Serikat pada 2021 menemukan pasangan yang tidak bahagia kerap mengunggah hubungan di media sosial. Lebih lanjut dibahas bersama Zoya Amirin, Psikolog spesialisasi percintaan dan intimate relationship.

Kedua bahasan itu jadi tema obrolan FOMOSapiens pekan ini.

1. Konten Pelecehan Seksual

Pekan ini Content Creator TikTok, Talitha Pavita atau akrab disapa Talpav menuai pro kontra pasca video prank ‘tempel dada’ yang dibuatnya. Tak sedikit warganet yang menilai konten tersebut merupakan bentuk pelecehan seksual terhadap laki-laki. Dalam video klarifikasinya, Talpav menyatakan permohonan maaf dan tidak ada intensi untuk menempelkan dada, serta telah minta izin pada orang-orang dalam videonya itu. Sementara, menurut Ahli Hukum Pidana Universitas Gadjah Mada (UGM), Muhammad Fatahillah Akbar, secara hukum seseorang yang mencoba menempelkan bagian tubuhnya yang terkait dalam hal seksualitas melanggar UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) Pasal 6A dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 4 tahun atau denda sebesar Rp 50 juta.

Baca juga : Kekerasan Berbasis Gender Online Lebih Mengancam Selama Pandemi


2. Medsos Display Affection

Spekulasi soal dampak psikologis media sosial sudah banyak dibahas dalam berbagai studi. Salah satunya perkara hubungan romantis, media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan Twitter dapat meningkatkan perasaan tidak aman atau insecure pada individu. Pada artikel di tahun 2012, Nicky Lidbetter, CEO Anxiety UK menunjukkan efek media sosial bagi individu yang rentan terhadap kecemasan. Menurutnya, tekanan dari teknologi bertindak sebagai titik kritis, membuat orang merasa lebih tidak aman dan kewalahan. Seperti apa selengkapnya?

Baca juga : FOMO Sapiens : Perkara Ngemis Online dan Kekerasan Seksual Pada Laki-Laki

Dengarkan bahasan selengkapnya di FOMO Sapiens pekan ini bersama Ian Hugen dan Aika, akan ada juga obrolan soal diskriminasi usia di tempat kerja.

*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Urgensi Penerapan Cukai Minuman Berpemanis

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11