Bagikan:

Harga Kedelai Naik, Kemendag Akui Tidak Bisa Berbuat Banyak

"Tidak perlu menghentikan produksi. Itu resiko mereka karena edukasi publik harus dilakukan. Disesuaikan saja harganya gitu. Toh, harus disesuaikan juga, toh kita enggak bisa apa-apa."

NASIONAL

Senin, 21 Feb 2022 13:06 WIB

Author

Ranu Arasyki

Ilustrasi: Pekerja memproduksi tahu di pabrik tahu rumahan di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten

Ilustrasi: Pekerja memproduksi tahu di pabrik tahu rumahan di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (15/2/2022). (Foto: ANTARA/Muhammad Iqbal)

KBR, Jakarta— Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Kemendag) Oke Nurwan menyebut tidak bisa berbuat banyak untuk mengendalikan harga kedelai yang melejit di pasar domestik. Menurutnya, Indonesia masih mengandalkan impor kedelai besar-besaran untuk memenuhi stok dalam negeri.

Oke Nurwan meminta perajin tahu dan tempe menghentikan aksi mogok produksi yang berlangsung sejak Senin, (21/2/2022).

"Saya pikir perajin tahu dan tempe tidak perlu berdemo. Tidak perlu menghentikan produksi. Itu resiko mereka karena edukasi publik harus dilakukan. Disesuaikan saja harganya gitu. Toh, harus disesuaikan juga, toh kita enggak bisa apa-apa. Karena ini barangnya dari sana. Saya enggak bisa mengatur harga di Amerika," katanya kepada KBR, Senin (21/2/2022).

Baca Juga:

Oke mengatakan belum dapat memastikan kapan harga kedelai akan mulai melandai. Apalagi, saat ini impor kedelai masih sangat besar, yakni lebih dari 80 persen. Sementara, produksi lokal hanya mampu menghasilkan lebih dari 10 persen dari total kebutuhan domestik. 

Menurut dia, sepanjang swasembada komoditas kedelai belum dijalankan secara penuh, maka harga kedelai akan tetap dipengaruhi oleh harga di pasar global.

"Kalau sebelum swasembada kalau sekarang pasokannya malah menurun kan impornya itu rata-rata 80 persen. Sekarang Kementerian Pertanian bicaranya hanya sampai 10 persen (produksi lokal). Sampai kapan ya selama pasokan kedelai dalam negeri (terpenuhi), masih lama kalau seperti ini," sambungnya.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Kejar Tayang Pengesahan RKUHP

Most Popular / Trending