Jokowi Ajak Malaysia Lawan Diskriminasi Sawit Uni Eropa

"Indonesia akan terus berjuang melawan diskriminasi terhadap sawit. Dan, perjuangan tersebut akan lebih optimal jika dilakukan bersama."

BERITA | NASIONAL

Jumat, 05 Feb 2021 16:15 WIB

Author

Resky Novianto

Jokowi Ajak Malaysia Lawan Diskriminasi Sawit Uni Eropa

Ilustrasi komoditas kelapa sawit Indonesia. (Foto: Antara)

KBR, Jakarta - Pemerintah Indonesia mengajak Pemerintah Malaysia bersama-sama melawan diskriminasi ekspor komoditas kelapa sawit ke negara-negara Uni Eropa.

Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo, saat menerima kunjungan bilateral Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yasin di Istana Negara, Jumat (5/2/2021).

Jokowi berharap komitmen antarkedua negara terus dilakukan, agar sawit dari negara serumpun ini bisa tetap disuplai ke Uni Eropa.

"Mengenai isu sawit. Indonesia akan terus berjuang melawan diskriminasi terhadap sawit. Dan, perjuangan tersebut akan lebih optimal jika dilakukan bersama, dan Indonesia mengharapkan komitmen yang sama dengan Malaysia mengenai isu sawit ini," katanya.

Pembicaraan detail mengenai keberlangsungan ekspor sawit Indonesia-Malaysia ini telah didiskusikan secara lebih lanjut oleh Menteri Luar negeri kedua negara, pungkasnya.

Beberapa tahun terakhir, perdebatan tentang keberlanjutan minyak kelapa sawit dan minyak sayur lainnya, menjadi persengketaan antara Indonesia dan Malaysia dengan Uni Eropa.

Uni Eropa melakukan diskriminasi aturan terhadap minyak kelapa sawit (CPO) dari Indonesia.

Meski didiskriminasi, ekspor CPO dari Indonesia ke Uni Eropa justru tumbuh.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Piket menjelaskan nilai ekspor CPO Indonesia naik 27 persen selama 10 bulan pertama di 2020. Sementara dari sisi volume, ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa juga naik 10 persen.

Editor: Kurniati Syahdan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Menyoal Kebijakan Pemerintah Tangani Konflik Papua

Para Pencari Harta Karun

Kabar Baru Jam 8

KPK Berada di Titik Nadir?