Mahfud MD : Jangan Besar-besarkan Politik Identitas di Pemilu

"Kita memilih berdasarkan itu boleh saja, namun jangan sampai menjadi pemicu konflik. Begitu selesai pemilu ya bersatu lagi. Negara ini dibangun sebagai negara demokrasi."

BERITA , NASIONAL

Selasa, 12 Feb 2019 17:54 WIB

Author

Zainudin Syafari

Mahfud MD : Jangan Besar-besarkan Politik Identitas di Pemilu

Pakar hukum tata negara dan pencetus Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD dalam acara sarasehan kebangsaan di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (16/1/2019). (Foto: ANTARA/Moch Asim)

KBR, Mataram - Eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Mahfud MD menyerukan agar masyarakat tidak membesar-besarkan politik identitas di masa-masa menjelang pemilu 2019.

Politik identitas yang terlalu ditonjolkan, kata Mahfud, berpotensi memicu konflik di tengah masyarakat.

Penggagas Gerakan Suluh Kebangsaan itu juga mengajak masyarakat yang sudah memiliki hak pilih agar tetap menggunakan hak pilih pada 17 April 2019 nanti. Menurut Mahfud MD, sikap tidak menggunakan hak pilih alias golput tidak akan menyelesaikan persoalan bangsa.

“Jangan sampai membesar-besarkan politik identitas. Misalnya karena beda agama, karena beda ras, beda suku. Kita memilih berdasarkan itu boleh saja, namun jangan sampai menjadi pemicu konflik. Begitu selesai pemilu ya bersatu lagi. Negara ini dibangun sebagai negara demokrasi, sebagai resultante, yaitu kesepakatan mengelola dilakukan secara bersama,” kata Mahfud di Mataram, Selasa (12/2/2019).

Mahfud MD mengatakan, golput berdasarkan hasil survei terbaru menunjukkan adanya tren penurunan. Jika di Pemilu sebelumnya golput sebesar 20 persen lebih, kini diprediksi sekitar 14 persen.

Menurut Mahfud MD, dalam demokrasi tidak akan ada calon pemimpin yang ideal, namun hanya ada calon pemimpin yang lebih baik dari yang lain.

Mahfud MD saat ini memotori Gerakan Suluh Kebangsaan, karena ada gejala potensi perpecahan bangsa. Salah satu potensi itu disebabkan maraknya kabar bohong atau hoaks.

Di setiap daerah, Gerakan Suluh Kebangsaan mengundang tokoh-tokoh berpengaruh. Di NTB, selain tokoh-tokoh dari enam agama, ormas NU, Muhammadiyah, Nahdaltul Wathan, cendikiawan dan pihak lain juga dikumpulkan.  

Menurut Mahfud, para tokoh itu nanti akan berbicara kepada komunitas masing-masing mengenai pentingnya menjaga keutuhan NKRI. Ia berpesan agar jangan sampai agama dijadikan alat untuk memecah belah umat yang selama ini sudah solid.

Editor: Agus Luqman 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.