Ginjal TKW Dicuri Majikan di Qatar, Menlu: Masih Utuh

"Saya mendapatkan informasi, ternyata bahwa beliau tidak kehilangan ginjalnya. Jadi dua ginjalnya masih ada, dan memang ada seperti selang,"

BERITA | NASIONAL

Selasa, 28 Feb 2017 16:43 WIB

Author

Dian, Eli, Rio, Angga

Ginjal TKW Dicuri Majikan di Qatar, Menlu: Masih Utuh

Sri Rabitah eks TKI Qatar menunjukkan hasil rontgen. (Foto: Medsos)


KBR, Jakarta- Kementerian Luar Negeri mangatakan ginjal bekas tenaga kerja Indonesia (TKI) di Qatar Sri Rabitah, keduanya masih utuh. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, meski masih utuh, ternyata di salah satu ginjal Sri terdapat selang, yang menurut dokter untuk membantu kelancaran urin.

Retno berkata, informasi itu dia peroleh dari koordinasi dengan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) dan RSUD Nusa Tenggara Barat.

"Saya mendapatkan informasi, ternyata bahwa beliau tidak kehilangan ginjalnya. Jadi dua ginjalnya masih ada, dan memang ada seperti selang, tetapi selang itu kemungkinan, kita masih mendalami apa yang sedang terjadi saat operasi saat it. Tetapi kemungkinan itu memang dipasang untuk membantu melancarkan urin," kata Retno di kantornya, Selasa (28/02/17).

Retno mengatakan, saat menerima informasi soal pengakuan Sri yang kehilangan ginjalnya, Kemenlu langsung meminta Kedutaan Besar RI untuk Qatar di Doha untuk memastikan data soal Sri. Namun, kata Retno, KBRI tak memiliki catatan apapun soal Sri. Sehingga, saat kedatangannya pada Juli 2014, Sri tak melaporkan diri ke KBRI.

Sementara itu Juru Bicara  Polda NTB Tri Budi Pangastuti mengatakan hasil akhir dari Rumah Sakit tersebut akan menjadi rujukan untuk dipelajari kembali kasus dugaan tindak pidana perdagangan ekspolitasi organ tubuh manusia yang menimpa Sri.

"Karena laporan yang bersangkutan itu organ tubuhnya dieksploitasi, kalau memang pernyataan dari rumah sakit sebagai ahli kesehatan menyatakan itu ya kita akan tinjau kembali itu akan dilanjutkan atau tidak nanti dari reserse akan mempelajari lagi," ujar Tri (28/2/2017)   

Sri menambahkan, sejauh ini Polda NTB melalui direktur reserse kriminal umum sudah menindak lanjuti kasus Sri dengan meminta keterangannya meski belum sampai pada pemeriksaan agen penyalur TKI yang dipakai.

"Baru (meminta keterangan) yang bersangkutan kemudian dicek di rumah sakit provinsi, rumah sakit pemerintah dan dengan kelengkapan-kelengkapan yang lebih lengkap, alat-alat yang lebih lengkap dari pemeriksaan yang pertama katanya di RS Lombok Utara. kalau ini kan di provinsi rumah sakitnya," tambahnya.

Menanggapi itu, tim kuasa hukum Sri Rabitah,  meragukan pernyataan RSUP Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menyebut ginjal Sri ada dua. Padahal, sebelumnya, dua dokter radiologi RSUP NTB menyatakan ginjal Sri hanya ada satu.

Koordinator Wilayah Pusat Bantuan Hukum Buruh Migran NTB Muhammad Saleh mengatakan, pernyataan pertama disampaikan dua dokter radiologi, yakni  dr Triana Dyah dan dr Dewi Anjarwati. Itu pun melalui proses pemeriksaan terhadap korban.

Saat itu lanjut Shaleh, korban sempat dirawat karena sakit di RSUP selama tiga hari. Baru pada 21 Februari 2017 dilakukan rontgen. Sementara, pernyataan RSUP kedua kalinya oleh dokter kandungan, hanya mengandalkan hasil foto rontgen yang sudah ada.

"Tidak ada pemeriksaan ulang pada korban, entah itu rontgen, dan sebagainya. Tapi dia hanya melihat kembali rontgen yang ada, dan dia menganulir bahwa dengan cepat dia mengatakan ginjal sebelah kanan ada. Ini sangat disesalkan karena hasil  yang kemarin itu lewat pemeriksaan, ada summary-nya, tahu-tahu tanpa pemeriksaan itu kemudian mengatakan ada," ungkapnya.

Saleh menambahkan pernyataan pertama RSUP dinyatakan tertulis dan disampaikan dihadapan Bupati Lombok Utara.

"Itu ada keterangan tertulisnya. Bahwa ginjal sebelah kanan tidak nampak. Terus informasi lisan dokter dihadapan bupati," katanya

Saat ini, terang Saleh, Sri masih dirawat di RSUP NTB. Sri akan tetap melakukan operasi pada Kamis lusa. RSUP menjelaskan bahwa di ginjal Sri memang terdapat selang.

Kasus Serupa

Organisasi pemerhati buruh migran Migrant Care mendesak pemerintah menuntaskan kasus dugaan pengambilan ginjal Sri Rabitah, setelah gagal dalam 3 kasus serupa sebelumnya.  Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo menyatakan kasus-kasus sebelumnya selalu tenggelam.

Wahyu menyebut kasus ini adalah penembakan TKI 2012, Dolfina pada 2016, dan Ati Wardiati tahun 1993, yang kesemuanya diduga jadi korban pencurian organ. Namun kasus itu ditutup karena berbagai alasan.
 

“Disulitkan itu korbannya meninggal dunia kemudian kadang-kadang keluarga juga tidak mau memperpanjang kasus ini karena dibedah, otopsi ulang. Keluarga juga kadang-kadang keberatan,” katanya ketika dihubungi KBR, Selasa (28/2/2017) siang.

 “Nah dalam kasus ini, momentumnya adalah, karena korbannya masih hidup dan kalau dia bersedia, saya kira harus dimaksimalkan untuk penuntasannya,” kata dia lagi.
 
Wahyu juga menekankan kantor perwakilan Indonesia di luar negeri untuk memantau WNI yang melakukan operasi besar di rumah sakit.
 
Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan keadaan jenazah tiap kali ada WNI yang meninggal. Berdasarkan catatan Migrant Care, pemerintah hanya menerima jenazah tanpa pengecekan ulang dan langsung memulangkannya ke Indonesia.
 
Sri Rabitah (25 tahun) warga Dusun  Lokok Ara, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan Lombok Utara  berangkat bekerja ke luar negeri pada 27 Juni  2014 lalu. Setelah satu minggu di rumah majikan di Doha, Sri dibawa  ke pemeriksaan kesehatan karena dianggap lemah. Dengan alasan untuk kesehatan, Sri  dibawa ke ruang operasi lantas  disuntik hingga tak sadarkan diri.

Seminggu kemudian korban dikembalikan ke PT. Aljajira Qatar karena dianggap tidak bisa bekerja dan lema. Di perusahaan itu  korban mengalami tindakan kekerasan karena dianggap tidak bisa bekerja. Sri akhirnya dikirim pulang dengan tanpa gaji.

Sepulang dari Qatar pada Juli 2014 itu Sri semakin kerap sakit. Beberapa waktu lalu korban memeriksa kesehatan ke RSUD Tanjung.  Setelah diperiksa dan melihat hasil rongent ternyata ginjal sebelah kanan korban tidak ada dan sudah diganti dengan pipa plastik. Sri kini tengah  menunggu jadwal operasi untuk mengangkat pipa itu. 

Editor: Rony Sitanggang

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme