Pelanggaran HAM 1965, DPR: Gimana Statusnya?

Anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Eva Kusuma Sundari menagih Kejaksaan Agung untuk menuntaskan pelanggaran Hak Asasi Manusia pada 1965/66 .

NASIONAL

Selasa, 18 Feb 2014 20:06 WIB

Author

Guruh Dwi Riyanto

Pelanggaran HAM 1965, DPR: Gimana Statusnya?

Pelanggaran HAM 1965, DPR, Eva Kusuma Sundari

KBR68H, Jakarta - Anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Eva Kusuma Sundari menagih Kejaksaan Agung untuk menuntaskan pelanggaran Hak Asasi Manusia pada 1965/66 .

Menurutnya, Kejaksaan Agung membiarkan kasus itu tidak mendapat kejelasan. Padahal, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia sudah menuntaskan penyelidikan kasus itu sejak tahun lalu.

"Misalkan ada tujuh kasus pelanggaran HAM yang sudah diselidiki oleh Komnas HAM, apa memang sudah ditolak, dibekukan atau tidak diapa-apakan? Gimana statusnya? Supaya harapan kita juga rasional. Terutama kalau saya bergelut ya terhadap kasus-kasus G30S/PKI itu yang sekarang orangnya sudah pada mau meninggal semua. Tolong rekonsiliasi segera didorong supaya ada tanggung jawab negara," ujar Anggota Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Eva Kusuma Sundari dalam rapat bersama dengan Jaksa Agung Basrief Arif di kompleks parlemen, Selasa (18/02).

Eva menambahkan, selain tidak ada penuntasan hukum, pemerintah tidak menunjukan penuntasan melalui jalur politik. Padahal, ia sudah meminta pemerintah membuat Keputusan Presiden untuk rehabilitasi kasus tersebut.

Sejak Juli tahun lalu, penyelidikan Komnas HAM menyimpulkan terjadi pelanggaran HAM berat oleh negara pada kasus 1965/66. Pada kurun itu, Komando Pemulihan dan Keamanan (Kopkamtib) yang dipimpin bekas presiden Soeharto melakukan 9 dari 10 pelanggaran HAM dalam Undang-undang tentang Pengadilan HAM. Pelanggaran yang dilakukan terhadap jutaan orang yang mendapat cap simpatisan Partai Komunis Indonesia di antaranya adalah pemerkosaan, pembunuhan dan penghilangan paksa.

Editor: Anto Sidharta

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun