Bagikan:

Strategi Komprehensif Pemerintah Hadapi Puncak Kasus Omicron

saat ini kasus omicron semakin banyak ditemukan di tanah air, sehingga pemerintah tidak akan lagi menggunakan tes sekuensing seluruh genom (WGS) secara keseluruhan

NASIONAL

Senin, 24 Jan 2022 19:29 WIB

Puncak kasus omicron

Ilustrasi pemeriksaan varian virus Covid-19. (FOTO: Creative Commons)

KBR, Jakarta - Pemerintah mengantisipasi lonjakan kasus omicron di Indonesia dengan mengoptimalkan penggunaan tes PCR dengan S-gene Target Failure (SGTF). Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, saat ini kasus omicron semakin banyak ditemukan di tanah air, sehingga pemerintah tidak akan lagi menggunakan tes sekuensing seluruh genom (WGS) secara keseluruhan untuk mendeteksi omicron.

"Dari sisi surveilans ditekankan bahwa karena kasus yang semakin banyak, tidak semua akan di genome sequencing lagi. Genome sequencing akan lebih kita arahkan untuk menganalisa pola penyebaran kasus omicron," kata Budi saat konferensi pers, Senin (24/1/2022).

"Kita akan menggunakan PCR yang jauh lebih cepat, PCR dengan SGTF yang bisa mendeteksi omicron sudah di kita distribusikan dan akan segera kita tambah untuk didistribusikan ke daerah-daerah," sambungnya.

Baca juga:

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menambahkan, pemerintah juga menyiapkan 150 ribuan tempat tidur di rumah sakit untuk mengantisipasi lonjakan kasus positif Covid-19 yang mulai naik.

Budi menyebut, selain tempat perawatan, pemerintah juga menyiapkan obat-obatan, oksigen dan tenaga kesehatan. Antisipasi yang komprehensif diharapkan mampu memperkuat persiapan untuk menghadapi puncak omicron yang diprediksi terjadi pada Februari hingga Maret nanti.

Baca juga:

    "Strategi perawatan rumah sakit kita sudah siap sekarang 80.000 bed, sudah terisi sekarang sekitar 5.000 jadi masih ada room. Dan itu masih bisa dinaikkan kembali menjadi 150.000. Oksigen obat-obatan dan tenaga kesehatan juga kami sudah siapkan, ya mudah-mudahan ini tidak dibutuhkan karena memang kami berharap yang masuk rumah sakit akan jauh lebih rendah," ucapnya.

    Editor: Muthia Kusuma

    Kirim pesan ke kami

    Whatsapp
    Komentar

    KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

    Cek Fakta: Benarkah China akan Ambil Alih Kalimantan?

    Kabar Baru Jam 20

    Kabar Baru Jam 19

    Kabar Baru Jam 18

    Kabar Baru Jam 17