Bagikan:

Omicron Meningkat, Anggota DPR: Jangan Anggap Remeh

"Kita tidak boleh lengah apalagi meremehkan Omicron seolah-olah Omicron itu OTG nya 95 persen ke atas."

NASIONAL

Senin, 24 Jan 2022 08:42 WIB

Author

Heru Haetami

Kasus Omicron meningkat, petugas   menyemprotkan disinfektan di SMPN 43 Jakarta, Kamis (20/1/2022).

Kasus Omicron meningkat, petugas menyemprotkan disinfektan di SMPN 43 Jakarta, Kamis (20/1/2022). (Antara/Akbar Nugroho)

KBR, Jakarta-  Anggota Komisi yang membidangi Kesehatan di DPR meminta seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran virus Covid-19 varian Omicron. Anggota Komisi bidang Kesehatan DPR, Rahmad Handoyo mengatakan, kasus harian yang mengalami lonjakan dan adanya kematian akibat Omicron mesti menjadi perhatian bahwa varian ini tidak boleh disepelekan.

"Meskipun fasilitas rumah sakit sudah dipersiapkan oleh pemerintah, berkaca dari negara lain dan kita sendiri, negara manapun di dunia tidak akan sanggup melayani fasilitas kesehatan di saat warga negara sakit bersamaan. Ini harus kita camkan dan harus hati-hati, ujungnya pasti menimbulkan korban. Kita tidak boleh lengah apalagi meremehkan Omicron seolah-olah Omicron itu OTG-nya  (orang tanpa gejala) 95 persen ke atas. Tapi ingat 5 persen itu atau sisanya kalau menulari yang berisiko itu kasihan," kata Rahmad saat dihubungi KBR, Minggu (23/1/2022).

Rahmad Handoyo mengatakan, pengetatan mobilitas juga mesti dilakukan. Pada sektor perkantoran, dia meminta perusahaan kembali menerapkan kerja dari rumah (WFH) dengan kapasitas 50 persen.

Sementara untuk sektor pendidikan, Rahmad meminta pemerintah segera melakukan evaluasi pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen dengan mempertimbangkan keselamatan anak.

Menurutnya, bukan tidak mungkin PTM bisa dihentikan sementara hingga penyebaran Omicron di Tanah Air terkendali.

"Lebih baik kita mundur satu bulan dua bulan ini. Sampai menunggu betul-betul kita bisa antisipasi, kasusnya turun, baru kita persilakan pendidikan kembali," ujar Rahmad.

Baca juga:


Selain itu, Rahmad mendorong pemerintah untuk meningkatkan upaya tes, pelacakan dan perawatan (3T). Menurut Rahmad, selama ini upaya 3T dalam penanganan Covid-19 masih lemah.

"3T harus kita gencarkan karena testing dan racing kita juga masih rendah," katanya.


Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Kemarau Tiba, Waspada Kebakaran Hutan dan Lahan